Antologi Puisi Berjudul "Dejavu Kanan Kiri" Karya Dhia Prekasha Yoedha, Ini Tanggapan Pengamat! - Ever Onward Never Retreat
Connect with us

Hi, what are you looking for?

Dhia Prekasha Yoedha, Salah Satu dari 93 Penyair Antologi Puisi Ibu

SAIK

Antologi Puisi Berjudul “Dejavu Kanan Kiri” Karya Dhia Prekasha Yoedha, Ini Tanggapan Pengamat!


Proklamator ID – Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia (FIB UI), Sunu Wasono apresiasi acara pembacaan antologi puisi bersama yang dilaksanakan di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, Pada Sabtu (11/12/2021)

“Acara meriah dan sukses dengan mengundang beberapa aktivis, dan puisinya juga saya kira 93 penyair dengan kurang lebih dari 250-an puisi, dan bukunya cukup tebal. Meskipun diikat dengan tema yang sama yakni Ibu sebagai Ibu Kandung, Ibu Pertiwi, dan Ibu Semesta,” ujar Sunu Wasono (18/12/2021) ketika dihubungi oleh Proklamator ID.

Bedah Buku “Antologi 93 Penyair Puisi dari 34 Provinsi Membaca Ibu” yang diinisiasi oleh Taman Inspirasi Sastra Indonesia.

Ia menilai puisi yang ditulis oleh Dhia Prekasha Yoedha berbeda dengan puisi yang lainnya yang hanya menggambarkan ibu sebagai sosok yang hebat, ibu sebagai tanah air yang harus dibela, disayangi.

Selain itu, menggambarkan kerusakan kerusakan alam, terkait dengan tingkah laku manusia dalam mengeksploitasi alam.

“Sedangkan puisinya Mas Dhia, saya kira puisi itu mempertanyakan kenapa sampai pada saat ini, nadanya masih sama yakni belum bisa menerima yang kiri, maunya yang kanan terus, Kiri tidak harus identik dengan Komunisme, namun juga dapat menunjukkan suara yang lainnya” tambahnya.

Meskipun Balai Pustaka (BP) dijadikan referensi sekaligus memperingati 100 tahun BP, menurutnya, kita harus kritis bahwa BP merupakan gerakan yang lahir dari bersebrangan dari kolonial Belanda.

“Yang kiri pada saat itu (pada zaman abad ke -20) dikenal dengan Sosialisme – Komunisme pada tahun 1920. Sepanjang perjalanan sejarah, kenapa kita harus mengutuk yang Kiri ? Padahal menurut puisi tersebut sebagai perimbangan antara buruk dan benar, Besar dan Kecil, Tua dan Muda, Kiri dan Kanan”, urainya.

Antologi Buku “93 Penyair Puisi dari 34 Provinsi Membaca Ibu”

Kendati demikian, fenomena yang muncul bahwa masyarakat masih belum menerima yang kiri, pasalnya rakyat telah terdoktrin oleh pemahaman lama dari warisan belanda bahwa kiri itu buruk.

Baca Juga:   Cultural Appropriation Agnez Mo Bikin Heboh, Apaan Sih?

“Bagaimana cara kita yang sekarang ini bisa menerima kiri tanpa mengutuk yang kiri ? Pada dasarnya kita sejak dini ditanamkan dalam pikiran bahwa kiri itu kotor, kanan itu bersih. Dan menerima sesuatu itu tangan kanan, jangan menggunakan tangan Kiri (tidak sopan), dan itu sebetulnya cara berfikir yang lama di masa – masa kolonial ditanamkan betul terhadap masyarakat pribumi” paparnya.

“Saya kira puisi itu mengkritisi apa yang terjadi sekarang itu mengingatkan kejadian dimasa lalu, dan mengapa kita tidak berhenti untuk mengutuk bahwa yang kiri itu selalu kotor ? Namun demikian kiri jangan digeneralisasi bahwa dalam konteks konteks kiri itu ditolak” tambahnya.

Advertisement. Scroll to continue reading.

“Bicara Ideologi bahwa kita pun sudah final. Dan realitasnya bahwa menggabungkan Nasakom itu tidak bisa dan pada prakteknya tidak dapat berjalan,” pungkasnya.

Oleh karenanya, dalam sampainya berharap bahwa buku puisi antologi dapat dibaca oleh khalayak luas.

Penyair yang tergabung dalam antologi bersama 93 Penyair Membaca Ibu meramu suatu harmoni suara dalam memperbincangkan sosok Ibu dari berbagai teropong lensa kehidupan yang mereka alami.

Karya penyair dari 34 provinsi ini, bukan hanya mendapat topik bahasan di beberapa daerah di Tanah Air, tapi juga dibahas oleh pakar kesusasteraan yang ternama.

“Rasa hormat dan kagum kepada Ibu sebagai sosok yang melahirkan seseorang, sungguh mewarnai sajak-sajak di dalam himpunan ini,” kata Sunu Wasono, pengajar di FIB Universitas Indonesia.

“Tiap individu memiliki pengalaman masing-masing dalam kaitan dengan ibu yang melahirkannya.”

Sedangkan Sastri Sunarti dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, dalam ulasannya memaparkan, puisi dalam antologi ini menawarkan suatu daya ungkap puitik yang indah, khas, dan otentik. Baik dalam retorika maupun visual atau tipografi.

Baca Juga:   Dikecam Lupa Akan Indonesia, Ini Pembelaan Diri Agnez Mo

“Ibu dalam makna sebagai tanah air dan alam semesta adalah dua konsep yang tidak jauh berbeda. Ibu juga dapat diasosiasikan sebagai pemberi kehidupan seperti bumi atau konsep the Goddes mother sebagai konsep yang sudah tua dalam peradaban manusia,” kata Dr. Sastri Sunarti. “Sifat seorang ibu sebagai sosok darah daging memiliki sifat-sifat agung seperti mengayomi, rela berkorban, dan kemudian diasosiasikan dengan Tanah Air atau alam semesta.”

 

Advertisement. Scroll to continue reading.
Antologi Puisi Karya Dhia Prekasha Yoedha

Deja Vu Kanan Kiri

Ibu, Ibuku,
Bu,
Hari ini masih seperti hari yang dahulu itu
Hari ini kali ini tanpa hadirmu,
tapi masih serasa jua Deja Vu,

Benar memang apa kata Crane Brinton terdahulu, Sedaya apa pun kita tepis, ia lagi tetap akan selalu berlaku,
Lagi, lagi, dan lagi,
Kembali lagi mematri, lingkar pola ulangan serupa,

Duh seluruh alur hidup ini, memang bak nestapa Sisyphus, pada bukit yang sama, dengan batu yang sama,
Berkali-kali kita ke puncak, berkali pula kita terhempas,
Senyaring apapun pekik teriak, kembali lagi ulang kutuk yang tak lepas.

Bu Ibu
Kemarin para pujangga mengelu-elu seabad Balai Pustaka,
Seakan kanan hadiah koloni ini lebih berpahala.
Serasa lullaby bagai buai yang kau dendang belaikan, ketika ku rewel enggan pejam mata,

Oh ibu,
Terlupakah para pujangga kanan penyeru keagungan balai penjinak itu pada kisah gigih juang kiri dari Bacaan Liar?
Kiri pembangkit kesadaran kritis rasa ketertindasan dahulu, sikap serupa yang juga disuarakan Kartini?
Apa mungkin kita gapai kanan dengan menyepak kiri?
Wahai ibu, mengapa kami tak kunjung iklas bertakzim menerima kiri kanan dalam hidup ini?

Baca Juga:   Jokowi Berikan Apresiasi Konser Online "48 tahun Godbless Berkarya"

Bu Ibu
Bukankah ibu jua yang wejangku, sekanan apapun kiri niscaya tetap lekat.
Begitupun pesanmu Bu, sekiri apapun jejakmu, kanan setia mendampingi kirimu.

Bukankah ketika kita berderap ke muka, kanan kiri bersama mencipta irama langkah serasi agar tetap berpijak laras gerak?
Mengapa kita kukuh tetap konyol menzalimi kiri atas nama adab yang tak adil itu?
Apa mungkin pantat kita kembali bersih jika tak ada telapak tangan yang dikirikan?
Sejak kapan kanan dimuliakan dan kiri dihina cibiri?

Bu Ibu
Seperti katamu dulu,
Ada suami ada istri
Ada bapak ada ibu
Ada kakak ada adik
Ada siang ada malam
Ada pagi ada sore
Ada panas ada dingin
Ada jauh ada dekat
Ada tinggi ada rendah
Ada depan ada belakang
Ada kanan ada kiri

Advertisement. Scroll to continue reading.

Bu Ibu
Karena ada ‘ada’ itu juga meniscayakan ada ‘tiada’ maka itulah dilema,
Padahal seperti katamu dulu Bu, pada ‘ada’ dilema pasti ada pendahulu ada,
ada yang bukan ada, ada yang bukan tiada.
Ada yang bukan ada maupun tiada.
Di ada sanalah engkau kini ber’ada’ Bu.
Di mana engkau tak lagi berpayah menyoal ada dan tiada, kanan atau kiri.
Tanpa rumit dilema.
Tanpa kesima de javu.

Pasar Minggu, 6 Oktober ’21

Click to comment

Advertisement
close