Home WOW Belajar Kebijaksanaan Dari Yesus

Belajar Kebijaksanaan Dari Yesus

by Proklamator
Belajar Kebijaksanaan Dari Yesus

YESUS yang disebut sebagai Isa oleh umat Islam, adalah pribadi berbudi pekerti amat luhur. Dia adalah pelita yang menerangi kegelapan zaman. Yesus menjadi teladan keluhuran budi dan mengajari manusia untuk berluhur budi. Dia mengajar dengan perbuatan dan ucapan. Pendidikan budi pekerti yang diterapkannya tidaklah semata-mata verbal dan kognitif sebagaimana pendidikan budi pekerti yang lazim kita saksikan saat ini.

Menurut Yesus, dalam fungsinya sebagai individu, manusia seharusnya menyambung tali kasih yang putus, memaafkan musuhnya, mengampuni pendosa, dan membangun persaudaraan sekemanusiaan. Kalau pipi kirimu ditampar, berikanlah pipi kananmu, begitu pula sebaliknya. Demikian pesan Yesus kepada murid dan pengikutnya, sebuah pesan yang sudah sangat familiar di telinga kita.

Yesus pun mendidik mereka untuk senantiasa berperasaan damai dan berpikir positif. Ketika sedang berjalan bersama murid-muridnya, Yesus berjumpa dengan bangkai anjing. Karena murid-muridnya sibuk mengomentari bau tak sedap yang meruap dari bangkai tersebut, Yesus berkata, “Lihatlah putihnya gigi bangkai anjing itu”.

Sebagaimana pandangan matanya, tutur kata Yesus pun teduh dan menyejukkan. Agar tidak melukai hati orang lain, dia sering berbicara dengan pasemon atau perumpamaan. Kalau tak salah, ucapannya yang paling kasar diungkapkannya kepada seekor babi yang tiba-tiba mendekatinya. “Pergilah dari sini dengan bahagia,” ujar Yesus.

Sekelumit keterangan di atas menggambarkan betapa mengagumkannya budi pekerti Yesus. Karena budi pekertinya yang luhur itu, Yesus pernah ditanya, “Siapa yang mendidik Anda?”. Dia menjawab, “Tidak ada seorang pun yang mendidik saya. Saya mengamati kebodohan orang bodoh. Lantas, saya menjauhi kebodohan tersebut.”

Dalam jawaban itu, tersirat informasi bahwa dalam hal budi pekerti Yesus tidak punya seorang guru pun. Untuk meningkatkan kualitas budi pekertinya, dia mendidik diri sendiri. Hal ini mengingatkan kita pada setengah bagian dari prinsip pendidikan budi pekerti yang diformulasikan Sosrokartono. Tokoh kejawen yang sangat dipengaruhi al-Ghazali tersebut menyatakan bahwa murid gurune pribadi. Terjemahnya, guru seorang murid dalam hal budi pekerti adalah pribadinya sendiri.

Baca Juga :   Freeportisasi Indonesia
Ke Pages Berikutnya

Artikel Lainnya

Apakah kelemahan kita: Kelemahan kita ialah, kita kurang percaya diri sebagai bangsa, sehingga kita menjadi bangsa penjiplak luar negeri, kurang mempercayai satu sama lain, padahal kita ini asalnya adalah Rakyat Gotong Royong. Terima Baca Selengkapnya

Untuk Diperhatikan!