Beradaptasi Dengan Zaman, DPP PA GMNI Baru Butuh Penyegaran - Ever Onward Never Retreat
Connect with us

Hi, what are you looking for?

Hakim Mahkamah Konstitusi (MK), Arief Hidayat terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum DPP Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (PA GMNI) masa bakti 2021-2026. INFOKONGRES

BAPER

Beradaptasi Dengan Zaman, DPP PA GMNI Baru Butuh Penyegaran


Proklamator ID – Helatan Kongres IV Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (PA GMNI) yang diselenggarakan di Bandung pada tanggal 6 sampai 8 Desember telah berjalan sesuai dengan harapan bersama, yaitu lancar dan kondusif.

Acara lima tahunan yang agak molor setahun karena badai pandemi, sehingga kongres juga dibuat secara hybrid itu pun telah menentukan siapa Ketua Umumnya yang menggantikan Ahmad Basarah untuk periode 2021 – 2026. Kongres yang bertemakan Menjawab Tantangan Zaman itu layaknya sebuah energi baru bagi PA GMNI untuk menyambut sekaligus menjawab perubahan zaman, dimana bisa dikatakan sebagai jawaban atas tantangan zaman yang kini sedang berlangsung, zaman dimana banyak ketidakpastian, zaman dimana banyak kejutan-kejutan baru yang datang diluar prediksi dan ekspektasi yang memang datang silih berganti, baik itu dari sisi politik, sosial, budaya maupun ekonomi dan yang pasti adalah perubahan ekosistem kehidupan seiring dengan berkembangnya kemajuan teknologi dunia saat ini.

Tentunya organisasi kedepan dibawah komando Arief Hidayat, yang merupakan seorang hakim Mahkamah Konstitusi diharapkan bisa memperbaiki citra dan marwah PA GMNI untuk dapat meningkatkan kredibilitas, kapasitas dan profesionalitas serta kapabilitas organisasi diberbagai spektrum lini kehidupan. Guna mencapai hal itu dibutuhkan sinergi dan kerjasama yang solid antar kader yang notabene sangat dinamis dengan warna dan dinamikanya masing-masing, tentunya sinergi dan kolaborasi antara mereka yang senior dan mereka para kader muda yang sudah saatnya mendapatkan porsi representasi untuk mewujudkan organisasi menjadi dinamis dan inklusif serta mampu beradaptasi dengan tuntutan zaman sekarang ini.

Sudah barang tentu organisasi perlu melakukan penyegaran didalam struktur organisasinya, tanpa harus menghilangkan tradisi atau kesepakatan-kesepakatan bersama yang sudah lama menjadi keputusan bersama, yaitu substansi dalam mengakomodir siapa-siapa saja yang berhak dan tepat serta cocok untuk mengisi posisi-posisi kepengurusan kedepan. Kuncinya dari semua itu adalah kolaborasi antar kader, yaitu kader lintas generasi dengan disiplin dan profesi yang beragam, semua itu untuk memperkuat dinamika organisasi untuk bisa bersaing dengan organisasi lainnya, juga untuk kembali menunjukan bahwa kompetensi dan profesionalitas organisasi tidak bisa diremehkan dengan adanya upgrading dan pembaruan gerakan. Sudah saatnya organisasi harus mengambil sikap dan tindakan yang berani.

Mengingat kedepan tantangan zaman semakin berat, persaingan yang semakin ketat dan dinamika kehidupan yang cenderung cepat sekali berubah-ubah, organisasi harus mulai menata gerak dan langkahnya dengan segala kesiapan dan tentunya dengan lini kepengurusan baru, bukan lagi memajang dan mengetalasekan generasi-generasi kader yang sudah expired yang sudah lamban menyerap perubahan, sudah tidak lagi mengikuti perkembangan trend zaman terbaru, namun butuh kader dan pengurus yang up to date dengan segala perubahan dan aware dengan semua perkembangan dinamika kehidupan saat ini.

Baca Juga:   PA GMNI, Rumah Besar Kaum Nasionalis

Organisasi tentunya bukan berarti harus memangkas atau menghilangkan peran para orang tua didalamnya, tapi lebih pada memberikan peluang dan kesempatan bagi mereka yang muda, yang punya kemampuan dan daya penyesuaian yang tepat dalam rangka menyambut disrupsi zaman seperti sekarang ini.

Komposisi kepengurusan menjadi penting untuk bisa menempatkan anak muda pada post-post tertentu yang diharapkan akan dapat memacu dan mendrive mereka yang sudah tua untuk dapat mempercepat gerak dan langkahnya untuk mengakselerasi semua tantangan zaman sesuai tema dan cita-cita Kongres IV.

Banyak sekali kader-kader yang sangat berpotensi dan mempunyai peluang untuk dapat memperbaiki dan membuat organisasi kembali menjadi organisasi yang kopetitif dengan profesionalitasnya. Struktur kepengurusan organisasi juga dibutuhkan untuk menentukan cara dalam membangun institusi PA GMNI. Memilih pengurus harus memiliki kejelasan tentang mengapa organisasi ini harus memilih pengurusnya, bagaimana kontribusinya nanti terhadap perubahan sosial yang dibutuhkan. Tanpa ini, organisasi alumni tidak ubahnya seperti alat bagi fosil-fosil pemikiran untuk alat berkuasa belaka.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Penyegaran Organisasi

Ide membangun pembaruan organisasi adalah supaya perjuangan ideologi organisasi yang terkini dapat terwadahi secara formal dan terakomodir dari berbagai spektrum ide dan pemikiran lintas usia kader, dan tentunya semua ide itu memiliki alasan dan tujuan perjuangannya. Tanpa pembaruan itu, intitusi akan terombang-ambing oleh permainan zaman ditengah-tengah hempasan perubahan yang begitu cepat ditengah ombak lautan permasalahan global saat ini tanpa arah yang jelas.

Perubahan juga dapat diartikan sebagai sistem kepercayaan dan norma baru organisasi yang kekinian yang mampu bertransformasi mengikuti arah perkembangan zaman. Perubahan dalam hal ini melihat bahwa kepengurusan memberikan basis legitimasi bagi para kadernya untuk berpikir dan berjuang, bersikap dan bertindak sesuai dengan cita-cita kongres yang sudah berlangsung. Penyegaran memberikan gambaran tentang alasan, kekuatan dan motivasi tindakan kader untuk membuat perubahan baru yang nyata dan konkrit secara empirik untuk menyambut optimisme baru kedepan.

Baca Juga:   Apa Jadinya Manusia Sedunia Tanpa Indonesia?

Penyegaran Struktur

Mantan Ketua Umum PA GMNI, Ahmad Basarah bisa menjadi Ketua Dewan Pakar Nasional untuk hal ini bisa ditopang oleh Karyono Wibowo sebagai sekretaris dan beberapa anggota lainnya yang bisa suporting agar program-program kerjanya bisa berjalan secara optimal dengan regenerasi usia, dimana sebelumnya Ketua Dewan Pertimbangan DPP PA GMNI adalah eks Ketua Umum seperti dulu misalnya sejak dari Palar Batubara hingga Soekarwo. Dewan Pakar juga sudah seharusnya bisa menampilkan citra intelektual Sukarnois dengan tetap menjaga marwah intelektualitas dengan memperkuat citra non politis.

Pakde Karwo yang kini mempunyai posisi sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres), seyogyanya bisa didukung oleh marwah organisasi PA GMNI yang lebih kuat. Bahwa Dewan Ideologi yang selama lima tahun ini dijabat oleh Ketua Umum terpilih, Arief Hidayat masih sangat potensial untuk dikembangkan. Terutama dalam membangun kemitraan dengan BPIP, BNPT, BSSN dan sebagainya, maka posisi Soekarwo lebih cocok untuk menggantikan posisi Arief Hidayat di Dewan Ideologi, tentunya juga dengan suporting downline kebawahnya yang juga bisa bekerja dan mendukung kinerjanya untuk suksesi terjaminnya realisasi komposisi ini perlu diisi oleh komposisi kader yang mampu bekerja efektif di bawah kepemimpinan Soekarwo, anggota bisa diisi oleh Pataniari Siahaan, Eros Djarot, Muradi, juga Diah Prekasha Yoedha.

Untuk Dewan Pertimbangan Nasional bisa masuk nama-nama seperti Palar Batubara atau Riad Chalik Oscha sebagai ketua serta didukung oleh Ugik Kurniadi sebagai sekretaris dan tentunya suporting tim yang bisa membantu kinerja Dewan Pertimbangan Nasional.

Sementara untuk Dewan Kehormatan ada sederet nama senior lain seperti Siswono Yudho Husodo, Theo L. Sambuaga dan Murdaya Poo yang sudah tidak diragukan lagi eksistensi mereka selama ini.

Sedangkan untuk posisi Ketua Harian jika kemungkinan nanti ada, bisa diisi oleh figur seperti Bambang Wuryanto (Patjul) dimana gerbong Jawa Tengah ini sangat solid dan militan, bisa untuk memback up kerja-kerja dari Ketua Umum, dimana Ketua Harian juga harus bisa dinamis dan fleksibel melangkah dalam membuat gerakan-gerakan organisasi dan mengkoordinir semuanya.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Sementara untuk mensuport dan memperkuat akselerasi Ketua Umum jika seumpama dibutuhkan Wakil, bisa diambil dua atau tiga wakil sekaligus, posisi ini layak diisi oleh mereka yang muda dan punya visi kedepan serta berani melangkah tanpa beban dan harus bisa menyusun langkah think-thank yang taktis dan dinamis. Untuk posisi ini ada nama-nama dari kalangan muda seperti Jan Prince Permata yang kini juga berada di lingkaran istana, ada Soni Tri Danaparamitha sebagai representatif dari politik dan keduanya adalah kader muda yang masih sangat dinamis untuk bisa membuat langkah yang progresif, mereka bisa diback up untuk posisi wakil ketiga ada Riano Oscha sebagai representasi gerakan akar bawah, dan juga mungkin bisa ditopang oleh Refi Wahyuni yang juga masih bisa dinamis dengan posisinya saat ini yang dekat dengan lingkaran ring satu balaikota DKI, tinggal mana yang cocok antar keduanya bisa dipilih salah satunya, tiga Wakil Ketua lebih dari cukup bisa suporting dan memback up kerja-kerja Ketua Umum.

Baca Juga:   Komposisi DPP PA GMNI, Tugas Rumit 11 Formatur

Sementara posisi Sekretaris bisa diisi oleh tuan rumah, Abdy Yuhana yang kini berdomisili di Bandung, Jawa Barat masih bisa terjangkau jika harus melakukan mobilisasi ke Jakarta untuk melengkapi kerja-kerja kepengurusan DPP PA GMNI, juga potensial karena juga merupakan salah satu kader muda yang kita harapkan bisa menjawab tantangan akan perubahan zaman tersebut.

Adapun untuk posisi Bendahara kans potensialnya bisa diisi dari Sulawesi Utara yaitu oleh James Sumendap, ia dirasa cukup mempunyai kapasitas untuk membenahi kas keungan agar lebih transparan dan akuntable. Potensi James ini bisa mengoptimalisasi berbagai program yang nantinya akan dijalankan.

Dan untuk yang terakhir yang sama urgent dan pentingnya, yaitu pembentukan dan pengisian anggota kompartemen ataupun badan otonom harus bisa menyesuaikan dengan kepentingan dan perubahan yang sedang terjadi saat ini, kerja-kerja organisasi harus lebih bisa moderat dan modern harus bisa mengakselerasi dan mampu bertransformasi dengan membuat konvergensi metode dan langkah yang kompatible dengan perkembangan dan modernisasi saat ini, salah satu langkanya adalah menempatkan kader-kader muda potensial yang sudah aware dengan perubahan zaman dan sudah aware dengan semua tools-tools yang telah berkembang saat ini, karena zona perjuangan bukan lagi ada hanya di area offline konvensional tapi juga di wilayah online atau daring, yaitu diruang-ruang digital dan cyber yang sangat membutuhkan kemampuan adaptasi digital yang mumpuni agar dapat mentransfer dan mengkonversi program-program kerja masuk ke segala lini kehidupan digital maupun offline.


Oleh: Koeshondo W. Widjojo

Click to comment

DELIVERY

Proklamator ID  – Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Eva Kusuma Sundari menilai terpilihnya Hakim Mahkamah Konstitusi, Arief Hidayat pada Kongres IV PA GMNI...

+62

Proklamator ID – Terselenggaranya Kongres IV Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (PA GMNI) di Bandung, 6 – 8 Desember 2021, Ketua DPP PA...

FYI

Proklamator ID – Kongres IV Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (PA GMNI) di Bandung, 6-8 Desember lalu, berhasil menetapkan Arif Hidayat sebagai Ketua...

BAPER

Proklamator ID – Ketua Panitia Nasional Kongres IV Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (PA GMNI), Karyono Wibowo menegaskan acara kongres tersebut bukanlah reuni...

Advertisement
close