Che Sang 'Guerilla Revolutioner' Guevara - Ever Onward Never Retreat
Connect with us

Hi, what are you looking for?

Ernesto Che Guevara. LIFE/Getty Images
Ernesto Che Guevara. LIFE/Getty Images
Ernesto Che Guevara. LIFE/Getty Images

ROMANSING

Che Sang ‘Guerilla Revolutioner’ Guevara


Proklamator ID – Ernesto ‘Che’ Guevara (14 Juni 1928 – 9 Oktober 1967), adalah seorang legenda dokter revolusioner kelahiran Argentina. Wajahnya telah bertebaran di muka bumi ini dalam berbagai bentuk maupun cita rasa. Di alam nyata wajah Che ini telah berevolusi menjadi perlambang dalam mengingat maupun menggugah alam bawah sadar orang orang yang menjadi peduli akan nasib kaum proletar, terlebih mereka yang merasa ditindas hak-haknya, sehingga wajahnya lebih bernuansa alam revolusioner.

Kisah tentang Che ini menjadi lebih kompleks bila dibatini lebih lanjut. Sadar atau tidak sadar kemelut wajah Che ini utamanya telah memberikan inspirasi kaum muda dengan gelora revolusionernya dan telah merambah pula kepada kaum tua. Gaya Che ini telah menjadi trend budaya Guevaraisme tersendiri dalam perspektif gerakan revolusioner. Mereka yang utamanya kaum muda seolah merasakan kebanggaan tersendiri dengan budaya perlambang Che.

Dengan simbol kabaret berbintangnya. Dengan juga jambangnya ataupun seragam sampai cerutunya, bahkan senyum tawanya. Foto wajahnya bertebaran dalam kaos, pin, topi, bahkan gambar dinding. Apalagi zaman ini makin bebas tekhnologi penyebarannya dalam berbagai media sosial elektronik. Semuanya wajah wajah Che dalam artian ‘Fisik – Materiil’. Terutama foto keren revolusioner legendaris pahlawan gerilya Che yang diabadikan oleh Alberto Korda pada 5 Maret 1960. Mengingat Che juga seorang pria yang gagah dan macho yang dikagumi para pemuda serta digandrungi oleh para kaum wanita. Tak heran jika Majalah TIME mengabadikan Che Guevara sebagai seorang berjiwa pemberontak revolusioner abad 20.

Wajah-wajah Che ini lebih jauh lagi berdampak secara ‘Psikis – Spirituil’, terutama bagi kaum muda meskipun kaum tua juga tidak sedikit yang terhipnotis, terutama bagi kaum tua yang sejak muda sudah mengagumi wajah Che. Mereka para pemuda utamanya menjadi lebih ingin tahu dan ingin dekat dengan wajah Che. Bahkan sampai pada taraf mendalami ideologi marxis dan gerilya ala Che serta merambah menjadi inspirasi gerakan radikal – revolusioner di berbagai belahan dunia termasuk di negari kita Indonesia tercinta ini.

Che adalah wajah legenda yang fenomenal dalam Kemelut Sejarah Revolusioner abad 20 bahkan merambah hingga kini abad 21. Bias Wajah Gerakan Revolusionernya telah melampaui Revolusi Bolsewiknya Lenin di Rusia 1917, juga Revolusi Kebudayaannya Mao Tse Tung di China 1966-1976, ataupun Revolusi Islam Iran Imam Khomeini 1979. Dari deretan tokoh radikal – revolusioner dunia, mungkin revolusi yang di cita-citakan oleh Tan Malaka lah yang kimianya lebih dekat untuk mengimbangi revolusinya Che Guevara. Watak revolusioner mereka umumnya kebanyakan di ilhami tokoh bapak Marxisme – Materialis – Dialektika Dunia, Karl Marx (5 Mei 1818 – 14 Maret 1883) serta paham Idealisme – Dialektika dari Friedrich Hegel (27 Agustus 1770 – 14 Nopember 1831).

Che Guevara. Foto: Alberto Korda

Revolusi Dunia Che

Che saat mahasiswa kedokteran telah berkeliling benua Amerika dan dalam perjalanan panjangnya telah banyak menghayati kepedihan hidup kaum papa. Sekitar tahun 1950 sampai dengan 1952 Che dengan menggunakan motor baik sendiri maupun saat bersama sahabatnya, Alberto Granado telah berkelana hampir 13. 000 km mulai dari Argentina, Chili, Peru, Ekuador, Kolombia hingga Venezuela, Panama, Miami lalu kembali ke Argentina.(sebagaimana diriwayatkan dalam buku hariannya The Motorcycle Diaries).

Dalam perjalanannya tersebut Che sebagai dokter muda juga bergelut dalam pengobatan kaum papa serta orang-orang sakit lepra dan kusta di daerah sungai Amazon. Che menyaksikan penderitaan rakyat miskin tanpa sandang pangan papan yang layak dan ditindas oleh kekejaman zaman.

Setelah lulus dokter sekitar tahun 1953 Che banyak membantu dalam mengatasi berbagai penyakit dan penderitaan rakyat di Guetemala. Saat di Guetemala Che mulai bersinggungan dengan kelompok pejuang revolusioner pendukung rezim Arbenz yang digulingkan oleh rezim Armas dukungan rezim kapitalis Amerika Serikat. Dengan tergulingnya Arbenz, Che selanjutnya mengabdi sebagai dokter di rumah sakit umum Meksiko dan sebagai dosen di fakultas kedokteran Universitas Otonom Nasional Meksiko pada tahun 1954. Berbagai keadaan inilah yang telah membentuk perasaan cinta kemanusiaan dan jiwa revolusionernya makin padat berisi. Menurutnya revolusioner sejati dipandu oleh perasaan cinta yang luar biasa. Mustahil untuk memikirkan seorang revolusioner sejati yang tidak memiliki kualitas ini.

Advertisement. Scroll to continue reading.
Baca Juga:   Rekonsiliasi, Alasan Gus Dur Berencana Cabut TAP MPRS Terkait Marxisme

Perjuangan revolusionernya semakin membara saat di Meksiko pada tahun 1955 Che berjumpa dengan Fidel Castro (Kuba, 13 Agustus 1926 – 25 November 2016), yang merupakan seorang pengacara dan tokoh pemberontak Kuba. Kemudian pada tahun 1956 dari Mexico Fidel Castro dan adiknya Raul Castro bersama Che Guevara, beserta puluhan kawan lainnya menuju Kuba untuk perang gerilya yang bermarkas di hutan pegunungan Sierra Maestra. Perjuangannya yang kemudian didukung oleh rakyat Kuba telah berhasil menciptakan Revolusi Cuba 1953 -1959 dengan meruntuhkan rezim Fulgencio Batista dan mengangkat Fidel Castro menjadi pemimpin Revolusi Cuba.

Setelah revolusi Kuba, Che menjabat sebagai menteri perindustrian lalu berkeliling dunia berdiplomasi dan berpidato menyebarkan pikiran revolusionernya. Che berkeliling dunia ke Amerika Serikat, berpidato di PBB lalu ke Eropa, Afrika dan Asia. Pada tahun 1959 Che dan Castro juga berkunjung ke Indonesia untuk berjumpa dan mendukung Gerakan Anti Nekolim dan Nasakomnya presiden Soekarno. Setidaknya Che, Castro dan Soekarno mempunyai kimia Marxisme yang relatif cocok ikatan molekulnya, sehingga merekapun bersahabat. Meskipun perspektif perjuangan revolusioner Che sejatinya lebih mendekati kemiripan gen dengan Tan Malaka (2 Juni 1897 – 21 Pebruari 1949). Che dan Tan laksana saudara batin yang berkomunikasi secara imaginer.

Selanjutnya pada tahun yang sama sekitar 18 Juni 1959 Che di undang dan di dukung presiden Mesir Gamal Abdel Nasser untuk berkunjung ke Gaza Palestina. Kunjungannya telah membangun semangat perjuangan bangsa Palestina untuk merdeka. Bahkan dikabarkan Che secara rahasia spektakuler, dengan dukungan Kuba dan Timur Tengah, datang kembali menyusup ke Gaza Palestina dengan menyamar sebagai ekonom Maroko Sayyid Al Mansour (konon banyak lagi samarannya) bersama kawan-kawan gerilyawan Kuba dan Amerika Latin lainnya membantu gerilyawan pembebasan Palestina Fedayeen melawan imperialis Zionis devilis Israel dukungan imperialis Amerika Serikat dan Inggris.

Foto Che Guevara pada tahun 1951 saat ia masih berumur 22 tahun.

Dukungan Che di Palestina sempat menggetarkan kekuatan Zionis Israel, sebelum akhirnya Amerika Serikat, Inggris dan sekutunya memperbanyak dukungan secara intens mempertahankan Zionis Israel. Perang Arab vs Israel pada perang 6 hari bulan juni 1967 dan perang Arab vs Israel (Perang Yom Kippur) pada Ramadhan 6 – 26 Oktober 1973, merupakan bagian dari bias wajah Che yang menggugah rasa solidaritas bangsa Arab untuk melawan Zionis Israel. Meski perjuangan Che belum selesai di Palestina, namun semangatnya akan terus bergelora.

Pada tahun 1965 Che meninggalkan Kuba dan segala jabatannya untuk kembali menyebarkan dan mengobarkan revolusi dengan bergerilya di Kongo Afrika untuk bergabung dalam pemberontakan Simba yang anti rezim Mobutu dukungan imperialis Amerika Serikat. Setelah kegagalannya di Kongo, Che sempat kembali ke Kuba dan tidak lama kemudian menuju Bolivia. Sampai saatnya terakhir Che bergerilya di Bolivia dan disinilah ia ditangkap pada tanggal 08 Oktober 1967 dan ditembak mati pada tanggal 09 Oktober 1967 atas perintah rezim boneka Bolivia, Rene Barrientos dukungan Amerika Serikat, Zionis Israel, Inggris dan sekutunya.

Jenazah Ernesto “Che” Guevara setelah ditembak mati di Bolivia; 1967. AP Photo

Gugurnya Che saat itu mempupuskan harapannya untuk perluasan gerakan revolusioner anti borjuis kapitalis di negara-negara boneka kapitalis lainnya di benua Afrika, Asia, Amerika bahkan di belahan dunia lainnya. Para Imperialis berharap dengan eksekusi Che akan meredam semangat para kaum revolusioner, terutama gerakan revolusioner ekstrim kiri Marxisme. Sepertinya rezim Barrientos di Bolivia berkaca dari pengalaman rezim Batista di Kuba yang pernah membebaskan Castro dan ternyata malah membesarkan kobaran api revolusi sampai menggulingkan rezim Batista itu sendiri.

Pada tanggal 10 Oktober 1967, satu hari setelah Guevara dihukum mati, jenazahnya diperlihatkan kepada pers dunia di binatu rumah sakit Vallegrande. (foto Freddy Alborta)

Namun nyatanya gugurnya Che telah melahirkan berjuta wajah Che di dunia yang terinspirasi oleh Gerakan Revolusionernya. Kematiannya segera menjadi duka dunia mulai dari Eropa, Afrika, Amerika hingga Asia menyalakan lilin dan berdoa untuk Che. Bahkan Che telah dianggap sebagai orang suci Santo Ernesto. Atas perjuangan Fidel Castro (dengan tim multinasional, geolog Kuba dan forensik Argentina serta dukungan pemerintah Bolivia), jenazah Che bisa ditemukan dan di identifikasi, lalu pada tanggal 17 Oktober 1997 baru bisa dikembalikan dan disemayamkan di mousoleum Santa Clara, Kuba.

Baca Juga:   Koperasi Gagal Bayar, Siapa Tanggung Jawab ?

Bulan Oktober (tahun 2017 genap 50 tahun ) peringatan kepahlawanan gugurnya Sang Revolusioner Che Guevara dan selalu dirayakan pada setiap bulan Oktober. Demikian pula saat kelahirannya bulan Juni selalu diperingati juga. Pro kontra telah menjadikan trade mark tersendiri dalam peringatan gugurnya Che di Kuba, Peru, Brasil, Argentina, Venezuela, Bolivia, Palestina, Afrika, Asia, maupun negeri lainnya. Tak ada gading yang tak retak dan tentulah pula tidak dapat di pungkiri terdapat pihak-pihak yang berkepentingan berbeda sehingga menentang pengaruh wajah Che Guevara (termasuk Tan Malaka) yang Marxisme.

Tidak sedikit pula penentangan gerakan revolusioner, terutama karena ketakutan terhadap revolusi berdarah yang banyak memakan korban jiwa dan kehancuran ekonomi, sosial, budaya, politik dan sebagainya. Revolusi Merah, revolusi yang lepas kendali tidak akan segan-segan melahap anak dan cucunya sendiri. Bahkan Revolusi Bunga di Portugal 1974 pun yang relatif damai mesti di pupuk dan dijaga semerbaknya. Dan begitulah reformasi maupun revolusi yang sering tak terelakkan menelan martir jiwa-jiwa pahlawan dan tak luput dari pembajakan terhadap reformasi atau revolusi itu sendiri. Oleh karenanya kitalah rakyat yang wajib tetap menjaga api revolusi demi kemaslahatan umat manusia.

Guevara (kiri) dan Fidel Castro, difoto oleh Alberto Korda pada tahun 1961

Spektrum semagat wajah Che bahkan tak terbendung merambah berbagai gerakan reformis maupun radikal revolusioner yang mempunyai latar belakang berbeda warna corak agama, ideologinya, seperti revolusi kebudayaan Mao Tse Tung di China 1966-1976, revolusi Islam Iran Ayatullah Khomeini 1978/1979 atau revolusi Khadafi 1969 di Libya. Perang Arab vs Israel 1967 dan 1973. Begitupun perlawanan berbagai faksi gerilyawan berbeda dalam perang melawan ISIS – Zionis yang berkecamuk di Timur Tengah, Suriah, Iraq, Yaman, Libia, Mesir, atau Kashmir, Rohingya, Uighur, Afghanistan, dan banyak lainnya. Termasuk Perjuangan bangsa Palestina melawan Imperialis Zionis Devilis Israel dukungan Amerika Serikat dan Inggris serta sekutunya, yang masih berlangsung sampai saat ini.

Che Guevara saat berdiskusi dengan Bung Karno. FILE

Che dan Indonesia

Che bersama Castro pernah ke Indonesia tahun 1959 dan Soekarno pada Mei 1960 juga mengunjungi Kuba. Perekatan kimia Che, Castro, dan Soekarno menjadikan mereka bersahabat. Bahkan sampai tahun 2008 Castro sempat memberikan penghargaan dengan membuat perangko bergambar Soekarno, Che dan Castro. Namun marwah Che di Indonesia sebenarnya lebih melekat dengan seorang revolusioner misterius dunia asal minang Tan Malaka.

Gerakan revolusioner mereka bagai saudara metafisik yang selalu bersama membela kaum tertindas. Meskipun keduanya tidak pernah bertemu, tetapi Tan laksana guru imaginer Che. Tidak menutup kemungkinan Che dan Castro juga dipengaruhi Tan dalam karyanya Madilog, Gerpolek, Massa Actie, Menuju Indonesia Merdeka dan lainnya. Mengingat banyak tokoh dunia juga dipengaruhi Tan, seperti Soekarno, Jenderal Sudirman, Mao dan lainnya. Tan juga menyebarkan api revolusi dunia ‘bergerilya’ ke luar negeri, Filipina, Tiongkok, Rusia, dan lainnya. Tentu saja Che dan Tan adalah pahlawan besar, meskipun dianggap tidak demikian ditempat yang berbeda. Che dan Tan sama sama berjuang dengan bergerilya, sebagaimana mashur Che dengan bukunya Perang Gerilya (1961) dan Tan Gerpolek: Gerilya Politik Ekonomi (1948). Che dan Tan nasibnya sama mati ditembak. Hanya saja Tan lebih menyedihkan, karena matinya misterius ditembak oleh bangsanya sendiri (berdasarkan penelitian Harry A. Poeze). Tan seorang revolusioner penuh misteri sementara Che sangat populer.

Baca Juga:   Mengenang Sosok Taufiq Kiemas Keturunan Masyumi Pengagum Soekarno, Disarankan Masuk HMI Hingga Gabung GMNI

Spirit Che (juga Tan Malaka) tak luput pula menginspirasi berbagai bentuk perjuangan rakyat Indonesia, termasuk gerakan revolusioner pasca kemerdekaan, seperti gerakan angkatan 1966 anti Orla rezim Soekarno dan anti PKI, Malari 1974 anti penjajahan modal asing dan anti rezim Orba, gerakan mahasiswa anti rezim militer Soeharto 1978, gerakan moral mahasiswa era tahun 80/90 an yang anti rezim militer dan kapitalis Soeharto. Sampai akhirnya gerakan reformasi mahasiswa – rakyat dengan dukungan berbagai pihak dalam penggulingan rezim Soeharto pada Mei 1998. Termasuk juga merdekanya Timor Leste dari Indonesia (1975 -2002). Selain itu juga spirit Che – Tan berpengaruh terhadap banyak gerakan radikal revolusioner lainnya di negara kita, seperti DI/TII (1949 – 1962), PRRI/PERMESTA (1957-1961), G30S/PKI (1965), Gerakan Aceh Merdeka (1976 – 2005), Operasi Papua Merdeka (1965 – Sekarang), Republik Maluku Selatan (1950 – sekarang), dan lain sebagainya.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Bahwa bias wajah Che (juga Tan) sampai saat ini pun masih memberikan semangat buat bangsa kita yang sedang berjuang melawan penjajahan oleh para koruptor. Bahwa bangsa Indonesia sedang berjuang kembali menegakkan Pancasila dan UUD 1945. Bahwa bangsa Indonesia sedang berjuang melawan musuh besar kemanusiaan yaitu penjajahan gaya baru neo kolonialisme atau neo imperialisme kapitalis zionis devilis yang telah menjerat dengan utang dan narkoba serta penghisapan aset sumber daya manusia dan alam.

Tetapi apapun itu spektrum multidimensi wajah Che telah menjadi kemelut yang mempunyai dampak mendalam dan meluas terhadap berbagai gerakan revolusioner di belahan bumi ini. Baik itu ‘gerakan revolusioner kiri, tengah, maupun kanan’. Wajah Che telah memberikan bara perjuangan revolusioner baik secara fisik atau materiil maupun psikis atau spirituil dengan melampaui batas-batas waktu, wilayah, ideologi, suku, agama, ras dan antar golongan dalam mewujudkan cita-cita kehidupan yang merdeka dari penindasan.

Spirit Che – Tan dan Kaum Muda

Tak ada yang bermartabat dari seorang anak muda, kecuali dua hal: bekerja untuk melawan penindasan dan melatih dirinya untuk selalu melawan kemapanan. – (Che Guevara)

Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda. – (Tan Malaka)

Che dan Tan sangat yakin akan kekuatan kaum muda dalam melakukan perubahan yang revolusioner. Dunia adalah milik kaum muda yang cinta akan kemanusiaan dan melawan penindasan. Revolusi adalah penjelmaan kematangan jiwa raga kaum muda atas rasa kasih kemanusiaan. Setiap bulan Oktober juga mengingatkan kita pada semangat revolusioner para kaum muda Indonesia. Para pemuda negeri ini telah menancapkan tonggak Pergerakan Revolusioner Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928.

Sumpah Pemuda merupakan buah gerakan cinta negeri dari semangat pencarian jiwa raga bangsa Indonesia dalam perjalanan panjang revolusi peradaban negeri Nusantara. Semangat kaum muda inilah yang secara dialektika telah melahirkan ‘Revolusi Pemuda’ (mengambil istilah Ben Anderson), dalam meraih Kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Dalam perspektif dialektik semangat Trans-Revolusioner Tan Malaka (seperti juga Che) telah menjelma menjadi semangat kaum muda masa kini. Spirit inilah yang mesti kita jaga dengan harmoni demi terwujudnya revolusi yang sesungguhnya, yaitu revolusi Indonesia yang adil dan beradab dan revolusi dunia yang damai.

Dengan semangat kaum muda, mari kita kukuhkan revolusi Indonesia damai dan perdamaian dunia dengan bersatu melawan neo kolonialisme, imperialisme, zionisme menuju peradaban manusia mulia. Demikianlah, semoga Allah SWT memberkahi kita semua anugerah cinta damai menuju revolusi cinta Illahi di dunia dan akherat. “Hasta la Victoria Siempre”
Aamiin Yaa Rabb. Wallaahua’lam


Oleh: Moh. Syafiq Khan

Advertisement. Scroll to continue reading.

Click to comment

ROMANSING

Proklamator ID – Sejarah Gerakan perempuan di Indonesia menorehkan sejarahnya secara formal pada Kongres Perempuan I tahun 1928. Gerakan itu berderap penuh dinamika, sempat...

FYI

Proklamator ID – Putri Presiden Republik Indonesia Soekarno, Sukmawati Soekarnoputri akan menjalani proses perpindahan menuju agama Hindu yang akan digelar di Kawasan Situs Cagar...

KEPO

Proklamator.id – Juni punya arti penting bagi bangsa Indonesia. Selain hari Lahirnya Pancasila, juga kelahiran Proklamator sekaligus Bapak Bangsa Indonesia, Sukarno. Nah, soal hari lahir...

ROMANSING

Proklamator.id – Beberapa waktu yang lalu masyarakat dan pemerintah dihebohkan oleh adanya pihak tertentu yang ingin mengadakan revolusi di Indonesia. Menghadapi kondisi ini pemerintah...

Advertisement
close