David Jenkins Ungkap Sosok Soeharto Muda Pendiam Hingga Diduga Misterius - Ever Onward Never Retreat
Connect with us

Hi, what are you looking for?

Presiden Suharto dan David Jenkins di lapangan golf Rawamangun, Jakarta, pada tahun 1970. Suharto bermain golf beberapa kali dalam seminggu. Burt Glinn/AFR

KEPO

David Jenkins Ungkap Sosok Soeharto Muda Pendiam Hingga Diduga Misterius


Proklamator.id – David Jenkins merupakan penulis sekaligus wartawan Australia yang menuliskan masa muda Soeharto dalam perjalanan kariernya, buku tersebut berjudul “Young Soeharto: The Making of a Soldier, 1921-1945.

Buku tersebut diluncurkan oleh Hon Gareth Evans AC QC sekaligus dilanjutkan oleh penulis dalam sambutannya David Jenkis dan sesi tanya jawab, sebagaimana diberitakan oleh laman resmi Australian National Unviersity. Acara tersebut dikemas dalam bentuk seminar pada hari Rabu, 08 September 2021 pukul 11.00 s/d 12.30 Waktu setempat.

Acara ini akan dimoderatori oleh Marcus Mietzner dari ANU. Peluncuran ini awalnya dimaksudkan sebagai acara di kampus, tetapi mengingat pembatasan COVID-19 yang sedang berlangsung, diputuskan untuk melanjutkan dengan peluncuran online.

Diketahui bahwa Inddonesia merupakan negara beragam dari spektur kelas sosial dan ekonomi, agama maupun etnis. Dalam keterangannya, bahwa sebenarnya Presiden Sukarno yang enggan memberikan kekuasaan eksekutif penuh kepada Letnan Jenderal Soeharto pada bulan Maret 1966.

Memang sosok Presiden Indonesia kedua dikenal sebagai sosok yang misterius. Lantas, juga menjadi suatu pertanyaan menduga-duga bisa menjadi presiden Indonesia paling lama.

Menariknya, David Jenkins menelisik Soeharto pada 1921 – 1945, Hasilnya buku yang ditulis lebih lama ketimbang masa kekuasaan Soeharto, 32 tahun. Young Soeharto menjelajahi tahun awal karier Soeharto menjadi tentara Belanda dan polisi Jepang.

Banyak hal-hal baru yang diungkap David Jenkins, wartawan Australia yang pernah dilarang masuk Indonesia pada era Orde Baru.

Selain itu, David Jenkins merupakan seorang peneliti dengan  wawancaranya yang menakjubkan dengan para jenderal terkemuka Indonesia, mantan perwira Angkatan Darat Kekaisaran Jepang dan orang-orang yang bertugas di tentara kolonial Belanda, serta bertahun-tahun penelitian yang sabar di arsip Belanda, Jepang, Inggris, Indonesia, dan AS.

Advertisement. Scroll to continue reading.
Baca Juga:   Bung Karno Bukan Penganut Nasionalisme Eropa

Ia mengulas kisah Soeharto masa kecil sebagai pemuda yang pendiam secara sosial tetapi sangat ditentukan dari pedesaan Jawa mulai naik ke tampuk kekuasaan. Diketahui bahwa Indonesia merupakan negara terpadat keempat.

Buku tersebut menggambarkan latarbelakang Islam Abangan yang pernah dianut oleh Soeharto sejak kecil. Kemudian beranjak remaja, ketika Soeharto ke Wononigi bertemu dengan Daryatmo.

Daryatmo merupakan guru spiritual yang membawa Soeharto dewasa yang semula Islam abangan-merujuk pada kepercayaan Islam berbalut unsur tradisi yang kuat.

Saat Pemilihan Umum 1977, Soeharto menerima Ignatius Joseph Kasimo, Frans Seda, dan beberapa tokoh lain dari Partai Katolik. Bahkan, sebelum mereka duduk, Soeharto sudah lebih dulu berucap bahwa Islam adalah musuh bersama.

Namun, saat bertambah-usia, Soeharto mulai menunjukkan ketertarikannya pada Islam. Pada 1990 ia mendukung terbentuknya Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) yang dipimpin BJ. Habibie.

Soeharto juga kemudian berangkat berhaji bersama keluarganya. Sekembalinya dari Mekah, dia mulai tampil lebih islami. Misalnya, dia mulai sering menggunakan kata. bismillah saat memberi pernyataan pada publik-hal yang dulunya jarang ia lakukan.

Yang juga menarik dari Young Soeharto adalah cara Jenkins menyuguhkan situasi politik pada masa pra-kemerdekaan.

Ketika Soeharto berumur 20-an tahun dan masih menjadi prajurit muda. Jenkins memberi gambaran latar belakang sosio-politik dan ekonomi serta perjalanan karier Soeharto sampai menjadi figur yang dikenal banyak orang.

Diketahui, dalam buku tersebut menceritakan bahwa Soeharto adalah salah satu diktator paling brutal, paling tahan lama, paling tamak dan paling sukses di Asia.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Dalam rangka memeriksa aspek-aspek karakternya, buku ini memberikan pengantar yang mudah diakses dan sangat mudah dibaca untuk faktor-faktor sosial, politik, agama, ekonomi dan militer yang kompleks, tetapi dramatis dan sangat menyerap.

Baca Juga:   Sakitnya Pancasila Dibawah Naungan Orde Baru

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

FYI

Proklamator.id – Momentum pada tanggal 30 September, beberapa stasiun televisi swasta, selalu menayangkan film tragedi “Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI. Film tersebut merupakan...

BAPER

Proklamator.id – Seingat saya, kesadaran menggunakan seragam Praja Muda Karana (Pramuka) secara intensif sejak Kelas 5 Sekolah Dasar Negeri 2 Air Angat, X Koto,...

ROMANSING

Proklamator.id – Dua peristiwa yang sangat pelik dihadapi oleh Bung Karno ketika menjadi Presiden Republik Indonesia yang pertama, pada bulan Juni, tahun 1970. Sejarawan...

ROMANSING

Proklamator.id – Memang hampir mustahil mendefisikan peran ibu secara tunggal dari konteks waktu yang berbeda. Kendati stigma ibu yang hanya menjalankan fungsi domestik masih...

Advertisement
close