Home WOW Fenomena Komunis Muslim

Fenomena Komunis Muslim

by Proklamator
Fenomena Komunis Muslim


Dahlan Ranuwihardjo, mantan Ketua Umum PB HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) dalam tulisannya “Fenomena Komunis Muslim” (Simponi, No 37 th ke-I, 13-20 Januari 2000) mempertanyakan: Salahkah mereka menjadi Komunis Muslim?

Ternyata pertanyaan Dahlan itu karena dilandasi kenyataan bahwa sekarang ini, di mana sebagian besar dari negara-negara berkembang masih merupakan ajang penghisapan dan eksploitasi oleh kapitalisme internasional, yang berperangai sebagai neo kolonialisme/imperialisme ekonomi.

Kalau (dalam keadaan demikian -pen) pemimpin-pemimpin Islam hanya menampilkan Islam sebagai ibadah saja, plus agama percaya Hari Besar Islam, hanya mempersoalkan prilaku yang a-susila, tapi diam dalam seribu bahasa mengenai prilaku a-sosial.

Kalau dakwah hanya terbatas kepada soal-soal ibadah dan akhlak karimah dan dalam bidang sosial hanya terbatas kepada mengatasi soal kemiskinan dan kemelaratan, tapi tanpa membahas soal kekayaan dan kemiskinan structural dipandang dari sudut ajaran Islam.

Kalau para pemimpin Islam hanya menerima saja setiap sumbangan dengan mengucapkan terima kasih dan ini adalah wajar, tapi tanpa mempertanyakan apakah sumbangan itu merupakan bagian dari kekayaan struktural, jatah atau bukan?

Pendek kata kalau pemimpin-pemimpin Islam di tengah-tengah merajalelanya kemunkaran-kemunkaran besar yang mengakibatkan penghisapan besar, melakukan tegoran “dengan kebijaksanaan baik” pun tidak, dan sekarang hanya melakukan nahi munkar dengan batin (semua keberatan disebut sebagai aliran kebatinan), maka akan merupakan konsekuensi logis. Jika, di kalangan ikhwan-ikhwan khususnya yang muda (akan) muncul figur-figur muda, yang walaupun rajin bersholat di masjid-masjid di Jakarta, Bandung, Yogya dan kota lain, namun dengan bangga menyebut diri sebagai new leftis.

Inilah fenomena “komunisme muslim” dengan nama dan bentuk yang lain. Salahkah mereka?

Apa Aarti Pertanyaan Dahlan Ranuwihardjo Tersebut?

Pertanyaan Dahlan tersebut ternyata mengandung kritikan yang tajam kepada praktek keberagamaan orang – orang Islam terutama para pemimpinnya. Tampaknya di mata Dahlan Ranuwihardjo, terutama para pemimpin Islam lebih banyak menekuni soal-soal yang bersifat simbol, seperti ibadah sholat, merayakan hari-hari besar Islam dan bila perlu berunjuk rasa terhadap hal-hal yang bersifat a-susila, tapi diam dalam seribu bahasa mengenai hal-hal yang a-sosial. Mereka tidak perdulikan terjadinya ketidakadilan sosial, kesenjangan sosial dsb.

Dakwahnya hanya terbatas kepada soal-soal ibadah dan akhlak karimah dalam bidang sosial hanya kepada meringankan penderitaan orang-orang yang miskin berupa pemberian sedekah, zakat infak dsb. Tapi tak pernah membahas mengapa di dunia ada yang miskin dan yang kaya, padahal ketika lahir semua dalam keadaan telanjang bulat. Tak pernah mereka bahas ajaran Islam yang mengutuk orang-orang yang menumpuk harta (lihat surat Al Humazah ayat 1) tak terdengar mereka suarakan agar kaum tertindas dan miskin mustadhafin bisa menjadi pemimpin di bumi dan mewarisi bumi, seperti yang dijanjikan Allah dalam surat Al Qashas ayat 5-5.

Begitu pula bila ada sumbangan, mereka tak pernah mempersoalkan apakah uang yang disumbangkan hasil kerja pribadi si penyumbang, atau hasil merampas keringat orang lain, atau hasil korupsi, kolusi dan nepotisme. Mereka hanya mengucapkan terima kasih dan mereka doakan semoga yang menyumbang itu lebih banyak lagi “rezekinya”, supaya bisa pula di waktu lain menyumbang kepadanya. Mereka tidak mempersoalkan apakah uang yang disumbangkan padanya itu haram atau halal.

Begitu pula terhadap makin mengganasnya penghisapan sesama, mereka hanya melakukan nahi munkar dengan batin saja. Itu jauh dari sikap orang yang kuat imannya.

Baca Juga :   Genosida Intelektual Kiri Indonesia Pasca 1965

Seperti dikatakan oleh Nabi Muhammad: ” bila anda melihat kemunkaran ubahlah dengan tangan, dan bila tak mampu dengan tangan ubahlah dengan lidah dan bila tidak mampu juga dalam hati saja dan itulah selemah-lemahnya iman”.

Jadi, kalau para pemimpin Islam di Indonesia kuat imannya, tentu kemunkaran itu akan diubahnya dengan tangan, bukan hanya dengan batin atau dalam hati saja. Orang-orang yang lemah iman inilah yang dengan gampang berkata bahwa orang yang menjadi komunis muslim itu adalah karena lemah imannya, sesat dan gampang dipropagandai oleh orang komunis. Kelemahan mereka, mereka tuduhkan sebagai kelemahan komunis muslim.

Ringkasnya, munculnya komunis muslim, terutama karena para pemimpin Islamnya dalam praktek keberagamaanya, tidak sungguh sungguh hendak menjadikan kebenaran dan keadilan, menjadikan Islam sebagai agama pembebasan bagi orang-orang yang tertindas.

Menjadi Komunis

Seorang Islam menjadi komunis bisa karena berdasarkan pengalaman pribadinya, di mana yang melakukan pembelaan terhadap kepentingan social ekonominya, dari penghisapan kaum kapitalis, feodalis dan fasis justru kaum komunis dan bukan para pemimpin Islam. Malah sementara pemimpin Islam dilihatnya justru memihak kapitalisme, feodalisme dan fasisme.

Ada juga yang menjadi komunis, karena ia mengetahui terdapat banyak titik temu antara Islam dan komunisme, terutama mengenai hal-hal yang mendasar. Seorang di antaranya yang demikian ialah H. Misbach dari Solo. Seperti dikatakan Pringgodigdo SH dalam bukunya “Sejarah Pergerakan Rakyat Indonesia” bahwa (menurut) H. Misbach untuk (perkara) memperkaya diri (hal: 28). Ayat-ayat Al Quran yang bercocokan antara komunisme dan Islam, seperti yang dikemukakan H. Misbach tsb, di antaranya ialah surat Al Humazah, ayat 1-4, yang mengutuk orang-orang yang menumpuk harta. Artinya mengutuk kapitalisme, memerangi kapitalisme, ini sama dengan komunisme.

Juga surat Al Qashas ayat 5 dan 6, yang menjanjikan kaum yang tertindas dan miskin (mustadhafin) akan menjadi pemimpin di bumi dan mewarisi bumi. Jika Al Qashas ayat 5 dan 6 ini membumi, artinya sosialisme telah tegak, kaum penindas (mustakbirin) tak berdaya lagi. Semua sudah diatur oleh kaum mustadhafin. Sosialisme ini juga menjadi tujuan yang dekat dari komunisme.

Begitu juga Islam menghendaki umat yang satu, yang tak mengenal kelas kelas lagi, seperti yang dikemukakan surat Al Mukminun ayat 52. Dan masyarakat yang demikian menurut Mansour Fakih adalah masyarakat Tauhidi. Masyarakat tanpa kelas ini, juga menjadi tujuan dari komunisme.

Karena itu pulalah H. Misbach seperti dikatakan Pringgodigdo bahwa golongan H. Misbach menganggap diri mereka bukan sebagai kaum komunis saja tetapi juga sebagai pembela-pembela yang tulen dari agama Islam.

Mendahului Allah

Karena itu, orang-orang Islam yang “fanatik”, kata Bung Karno, dan memerangi pergerakan marxisme, adalah Islamis yang tak kenal akan larangan-larangan agamanya sendiri (DBR – Dibawah Bendera Revolusi hal: 13). Bagi orang-orang Islam yang tak mengenal larangan-larangan ajaran agamanya sendiri, itulah yang memerangi komunisme. Dan mereka inilah yang dengan seenaknya menilai orang Islam yang menjadi komunis sebagai kurang iman, bodoh, sesat, terkecoh oleh propaganda komunis dsb. Atau yang bersangkutan Islamnya palsu, ia muslim gadungan, Islam dipakai sebagai kedok, sholatnya hanya pura-pura, alias sebagai taktik saja.

Biarlah mereka nanti merasakan azab, karena telah menempuh jalan sesat, serta ikut-ikutan dalam gerakan anti Tuhan dan anti agama. Mereka sudah menjatuhkan hukum, padahal surat Al Hujurat ayat 1 mengatakan: janganlah kamu menjatuhkan sesuatu hukum, sebelum Allah dan Rasul menghukumkan. Padahal Allah baru akan menghukum di akhirat nanti.

Mengenai hal itu dengan jelas dikatakan Al Quran dalam Surat As Saba ayat 24-25-26 bahwa: Sesungguhnya kami atau kamu yang berada dalam kebenaran atau dalam kesesatan yang nyata. Kamu tidak akan diminta pertanggunganjawab pelanggaran-pelanggaran kami, dan kami pun tidak akan diminta mempertanggungjawab kan perbuatan-perbuatan kamu. Katakanlah, Allah kelak akan menghimpun kita semua, kemudian memberi keputusan di antara kita dengan benar, sesungguhnya Dia Maha Pemberi Keputusan lagi Maha Mengetahui. Jadi, mereka yang menyatakan azab bagi komunis muslim, telah mendahului keputusan Allah, telah menempatkan dirinya sebagai Tuhan.

Tanggung Jawab Para Pemimpin Islam

Menurut Dahlan, masalah “Komunis Muslim” bukanlah masalah individual dari seorang individu muslim saja. Masalah ini disebut fenomena, karena ini merupakan gejala dalam dan merupakan masalah masyarakat. Masalah “Komunis Muslim” adalah merupakan dampak dari proses kontak dan interaksi antara Islam dan Komunisme. Soal bagaimana ajaran-ajaran Islam diaktualisasikan dan ditampilkan, memegang peranan besar, bahkan menentukan . Dan ini adalah merupakan tugas kewajiban para ulama dan cendekiawan muslim.

Baca Juga :   Bumi Manusia dan Layar Lebar

Jadi, masalah “Komunis Muslim” tidaklah hanya merupakan tanggungjawab individu yang bersangkutan, melainkan juga bahkan terutama tanggung jawab para pemimpin Islam.

Komunisme tidaklah muncul begitu saja dalam alam vakum. Ia adalah produk, bukan produk sampingan, melainkan produk pokok dari kapitalisme dan setiap sistem penindasan lainnya (feodalisme, fasisme dan lainnya). Sebagaimana pernah diungkapkan oleh Arnold Toynbee “komunisme adalah hasil hati nurani Barat yang bersalah”.

Begitu komunisme, demikian pula ke “Komunis Muslim-an”. Kalau komunisme adalah tanggungjawab Barat (kapitalisme), fenomena “komunis muslim ” adalah juga menjadi tanggung jawab para pemimpin Islam.

Mengapa Dahlan Sampai Pada Kesimpulan Demikian?

Dahlan benar sekali, sekiranya para pemimpin Islam tidak hanya tenggelam dalam simbol-simbol Islam saja, tetapi lebih mengutamakan substansi ajaran Islam, tentu persoalannya akan menjadi lain. Karena, kalau para pemimpin Islam senantiasa tampil sebagai penentang setiap bentuk penindasan atau penghisapan, tentu Komunis Muslim itu tidak akan muncul.

Seperti tidak akan munculnya, komunisme, bila kapitalisme tidak ada. Komunis muslim tak akan muncul, bila pemimpin Islam tampil memerangi kapitalisme, sesuai dengan kutukan terhadap orang-orang yang menumpuk-numpuk harta dalam surat Al Humazah (ayat 1-4). Bukankah yang menumpuk-numpuk harta itu kaum kapitalis!

Komunis muslim tak akan muncul sekiranya para pemimpin Islam memperjuangkan supaya kaum tertindas dan miskin (buruh, tani dan rakyat pekerja lain) menjadi pemimpin di bumi dan mewarisi bumi, seperti yang dijanjikan Allah dalam Surat Al Qashas ayat 5-6. Bila kaum tertindas dan miskin (mustadhafin) telah menjadi pemimpin di bumi dan mewarisi bumi, maka tak ada peluang lagi bagi kaum penindas/penghisap (mustakbirin) untuk menindas/ menghisap kaum mustadhafin. Dan itulah Sosialisme Islam.

Komunis Muslim pasti akan lebih banyak lagi yang muncul, bila para pemimpin Islam justru berdiri di pihak kapitalisme, feodalisme dan fasisme, bukannya memerangi kapitalisme, feodalisme dan fasisme. Komunis muslim muncul karena para pemimpin Islam tidak mengamalkan ajaran Islam secara sungguh-sungguh dan karena itulah, meskipun sudah 14 abad lebih, Sosialisme Islam juga belum tegak di bumi.

Baca Juga :   Bukan Kampret Pendukung Pilpres, Tapi Kampretisme Ngacoisme

Munculnya Komunis Muslim, diantaranya juga untuk mengoreksi para pemimpin Islam tersebut, untuk kembali pada ajaran Islam yang sungguh-sungguh. Menegakkan keadilan dan kebenaran. Hadirnya “Komunis muslim” justru menguntungkan agama Islam itu sendiri, karena mereka dengan sepenuh hati dan tanggungjawab mengamalkan ajaran-ajaran Islam yang oleh sementara pemimpin Islam diabaikan. Atau sementara pemimpin Islam itu hanya beriman kepada sebagian isi Al Quran dan ingkar atas sebagiannya.

Bila demikian, mereka itulah yang dimaksud surat Al Baqarah ayat 58, maka tiadalah balasan bagi orang-orang yang berbuat demikian di antaramu, melainkan kehinaan dalam kehidupan dunia; dan pada hari kiamat mereka dimasukkan ke dalam siksaan yang keras. Allah tiada lalai dari apa-apa yang kamu kerjakan. “Komunis Muslim” sudah di jalan Islam. *

Catatan kaki:
Agama adalah keluhan para makhluk tertindas, jantung-hati sebuah dunia tanpa hati, jiwa untuk keadaan tak berjiwa. Agama menjadi candu rakyat!”.  Karl Marx menunjukkan dengan ayat-ayat Al Quran hal-hal yang bercocokan antara komunisme dan Islam (di antaranya, kedua-duanya memandang sebagai kewajiban menghormati hak-hak manusia dan kedua-duanya berjuang terhadap penindasan). Dan diterangkannya juga bahwa seorang yang tidak menyetujui dasar-dasar komunisme, mustahil ia seorang muslim sejati. Dosa itu lebih besar lagi kalau orang memakai agama Islam sebagai selimut.*

This entry was posted on Wednesday, April 23rd, 2008 at 11:01 am and is filed under Uncategorized. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0 feed. You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Keterangan Tambahan:


Dahlan Ranuwihardjo (1925-2001) adalah Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) tahun 1951-1953. Dahlan dikenal sebagai tokoh Islam yang sangat nasionalis, dan peletak dasar hubungan harmonis antara HMI dengan pemerintah. Ia punya hubungan baik dengan Presiden Sukarno justru sewaktu HMI tengah ditekan untuk dibubarkan atas desakan Partai Komunis Indonesia (PKI) dan Concentrasi Gerakan Mahasiswa Indonesia (CGMI). Pada tahun 2001 Presiden Megawati juga meminta Dahlan menjadi ketua panitia peringatan “Seratus Tahun Bung Karno.”

Dahlan Ranuwihardjo dan Prof Dr Agussalim Sitompul (1945-2013) mantan Ketua Cabang HMI Yogyakarta dan Prof. Bustanul Arifin Ketua HMI Cabang Yogyakarta tahun 1952-1954 baru mendapat Penghargaan pada peringatan milad 47 tahun Korps Alumni HMI (KAHMI) 17 September 2013 yang disampaikan langsung Koordinator Presidium Nasional KAHMI, Mahfud MD.

Penganugerahan pada malam puncak resepsi HUT KAHMI di Hotel Bidakara, Pancoran, Jakarta Selatan, Selasa malam itu, dihadiri oleh sejumlah tokoh alumni HMI seperti Sulastomo Ketua Umum PB HMI 1963-1966, Akbar Tanjung Ketua Umum PB HMI 1971-1974, Jusuf Kalla, AM Fatwa, Priyo Budi Santoso, Irman Gusman, Viva Yoga Mauladi, maupun tokoh non-HMI seperti Wiranto dan lainnya.

“Mari kita teladani semangat juang para pendahulu dan senior-senior kita dengan darah ke-HMI-an, karena darah yang mengalir di tubuh itu akan membawa kita untuk terus berjuang dan berjuang bagi kebangkitan ibu pertiwi, Negara Kesatuan Republik Indonesia” kata Mahfud MD saat menganugerahkan penghargaan tersebut.


Dahlan Ranuwihardjo bicara tentang pandangan Islam terhadap Marhaenisme.
Pokok pokok pikiran Dahlan Ranuwihardjo
Buku klasik tentang Marhaenisme Ideologi Perjuangan Sukarno
Prosiding Seminar Nasional Marhaenisme II di yogyakarta 1999
Pokok pokok ajaran Marhaenisme menurut Bung Karno


Artikel Lainnya

Apakah kelemahan kita: Kelemahan kita ialah, kita kurang percaya diri sebagai bangsa, sehingga kita menjadi bangsa penjiplak luar negeri, kurang mempercayai satu sama lain, padahal kita ini asalnya adalah Rakyat Gotong Royong. Terima Baca Selengkapnya

Untuk Diperhatikan!
close