Connect with us

Hi, what are you looking for?

Ilustrasi Foto. 'Perempuan Diadili, Jakarta, Februari 1975. Dari kiri ke kanan: Suharti Harsono, Sri Ambar Rukmiati, Sudjinah dan Sulami.' Dari Tapol, Indonesia: Negara Penjara

ROMANSING

Gagasan Gerwani Tentang Wanita Berpolitik Berujung Pada Domestifikasi Perempuan era Orde Baru


Proklamator.id – Memang hampir mustahil mendefisikan peran ibu secara tunggal dari konteks waktu yang berbeda. Kendati stigma ibu yang hanya menjalankan fungsi domestik masih dominan, citra-citra ibu alternative terus tumbuh dan menjalar

Gerwani, pada zamannya menentang keras cara pandang perempuan sebagai pelengkap suami. Bagi mereka, untuk melenyapkan pemahaman macam itu adalah dengan menyediakan akses pendidikan bagi kaum perempuan.

Gerwani menilai bahwa mengurus anak dan mendidik mereka memang menjadi konsekuensi menjadi seorang ibu. Namun dalam konteks mendidik, sepatutnya memberikan penanaman semangat patriotism. Lebih lanjut, kepentingan anak-anaklah yang seharusnya mendorong para ibu untuk terlibat aktif dalam politik.

Semangat revolusioner yang digagas oleh Gerwani mesti pupus seiring dengan adanya dugaan penumpasan Partai Komunis Indonesia (PKI) sejak tahun 1965. Sejak era Soeharto menjabat sebagai Presiden Indonesia ke-2, peran ibu ditafsirkan lewat program pembangunan Orde Baru dan organisasi pembentukan pemerintah macam Panca Dharma Wanita Kowani.

Keterbatasan Wanita Berpolitik Awal Era Orde Baru

Budaya ikut suami kian lekat dalam definisi peran ibu semasa Orde Baru. Ibu yang semula diajak aktif dalam berpolitik oleh Gerwani, perlahan disingkirkan dari ranah politik. Memang benar, selalu disebut bahwa perempuan harus turut serta dalam pembangunan Negara, tetapi ia tidak pernah dilepaskan dari predikat pendamping suami.

Mengutip dari pidato Presiden Suharto pada peringatan Hari Ibu pada tahun 1978 di Balai Sidang Senayan, menyebutkan “betapa pun kemajuan yang dimiliki oleh wanita, namun kaum wanita tidak ingin kehilangan sifat-sifat kewanitaan dan keibuannya. Kemajuan wanita Indonesia haruslah berarti penyempurnaan sifat dan kodratnya sebagai wanita yakni seorang Ibu. Wanita yang kehilangan sifat dan peranan kewanitaan dan keibuannya pasti tidak akan mengalami kebahagiaan sejati.

Baca Juga:   Mengenal Tokoh Etnis Tionghoa Asal Sukabumi Kepercayaan Bung Karno, Szetu Mei Sen Menjadi Korban Tragedi G30S

Kata-kata seperti “kodrat” dan “kewajiban” menjadi senjata Orde Baru untuk mereduksi peran para ibu. Aktivitas perempuan begitu terkontrol ketika itu, semangatnya didekte dan diseragamkan. Tidak hanya kepada istri pegawai negeri, tetapi juga pada masyarakat luas lewat pembentukan PKK.

Domestifikasi perempuan yang dilakukan Orde Baru pada akhirnya kian menjauhkan para ibu dari semangat awal Kongres Perempuan Indonesia. Glorifikasi diberikan kepada sosok ibu yang manut terhadap suami, tidak berkoar koar soal politik, berlaku sesuai dengan kodratnya sebagai pengurus rumah tangga.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Bahkan hingga kini, imaji peran ibu yang dibentuk Orde Baru masih bertahan hingga kini. Hari Ibu seringkali diidentikan dengan ekspresi kasih dan apresiasi ibu dalam peran domestiknya.


Penulis: Rizky Akhmad Harary, Alumnus Fakultas Hukum Universitas Airlangga

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

KEPO

Proklamator.id – David Jenkins merupakan penulis sekaligus wartawan Australia yang menuliskan masa muda Soeharto dalam perjalanan kariernya, buku tersebut berjudul “Young Soeharto: The Making...

FYI

Proklamator.id – Momentum pada tanggal 30 September, beberapa stasiun televisi swasta, selalu menayangkan film tragedi “Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI. Film tersebut merupakan...

BAPER

Proklamator.id – Seingat saya, kesadaran menggunakan seragam Praja Muda Karana (Pramuka) secara intensif sejak Kelas 5 Sekolah Dasar Negeri 2 Air Angat, X Koto,...

ROMANSING

Proklamator.id – Dua peristiwa yang sangat pelik dihadapi oleh Bung Karno ketika menjadi Presiden Republik Indonesia yang pertama, pada bulan Juni, tahun 1970. Sejarawan...

Advertisement
close