Hubungan Baru Arab Saudi Dengan Iran Kurangi Konflik Syiah dan Sunni - Ever Onward Never Retreat
Connect with us

Hi, what are you looking for?

Orang-orang mengambil bagian dalam demonstrasi di Iran awal pekan ini untuk memprotes eksekusi Arab Saudi terhadap ulama Syiah yang juga tokoh oposisi. Foto: Zuma Press Associated Press
Orang-orang mengambil bagian dalam demonstrasi di Iran awal pekan ini untuk memprotes eksekusi Arab Saudi terhadap ulama Syiah yang juga tokoh oposisi. Foto: Zuma Press Associated Press
Warga Iran ikut ambil bagian pada saat aksi demonstrasi di Iran tahun 2016 untuk memprotes eksekusi Arab Saudi terhadap ulama Syiah yang juga tokoh oposisi saat itu. AP/Zuma Press

WWW

Hubungan Baru Arab Saudi Dengan Iran Kurangi Konflik Syiah dan Sunni


Proklamator.id – Arab Saudi dikabarkan pada Minggu (03/10/2021) melakukan komunikasi pertamanya dengan pemerintahan baru Iran. Hal tersebut sebagai proses untuk mengurangi ketegangan yang persaingan bergulir diantara Teluk Sunni dan kekuatan Muslim Syiah.

Menteri Luar Negeri Arab Saudi Faisal bin Farhan Al-Saud berbicara dalam konferensi pers bersama dengan kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa Josep Borrell di Riyadh, Arab Saudi, 3 Oktober 2021 sebagaimana dilaporkan oleh Reuters.

Pada April 2021, Washington dan Teheran kembali mendiskusikan soal pakta nuklir yang ditentang Riyadh dan sekutunya.

Tiga putaran pembicaraan Saudi-Iran diadakan di Irak pada bulan-bulan sebelum presiden garis keras baru Iran, Ebrahim Raisi, menjabat pada Agustus.

Menteri Luar Negeri Pangeran Faisal bin Farhan al-Saud mengatakan putaran terakhir telah terjadi pada 21 September. Dia tidak memberikan lokasi pertemuan. Tanggal tersebut bertepatan dengan pidato Raisi di Majelis Umum PBB di New York.

“Diskusi ini masih dalam tahap penjajakan. Kami berharap mereka akan memberikan dasar untuk mengatasi masalah yang belum terselesaikan antara kedua belah pihak dan kami akan berusaha dan bekerja untuk mewujudkannya,” katanya dalam konferensi pers bersama.

Arab Saudi dan Iran telah mendukung pihak yang berseberangan dalam konflik regional dan perselisihan politik di Suriah, Lebanon, dan Irak selama bertahun-tahun, dan Arab Saudi telah memimpin koalisi Arab yang mengobarkan perang melawan gerakan Houthi yang bersekutu dengan Iran di Yaman sejak 2015.

Riyadh dan Teheran sama-sama mengatakan kepada pihak yang bersebrangan, berharap pembicaraan itu dapat meredakan ketegangan, sambil mengecilkan harapan akan terobosan diplomatik besar.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Iran tidak segera mengomentari putaran pembicaraan 21 September. Riyadh telah mengatakan akan menilai pemerintah Raisi berdasarkan kenyataan di lapangan.

Baca Juga:   Kabar Gembira, Hubungan Diplomatik RI dan Saudi Arabia Hasilkan Penjadwalan Pelaksanaan Umroh bagi Indonesia

Mantan Presiden AS Donald Trump mengabaikan perjanjian di mana Iran telah menerima pembatasan program nuklirnya dengan imbalan pencabutan sanksi. Teheran menanggapi dengan melanggar beberapa ketentuannya.

Pembicaraan tidak langsung yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran tentang menghidupkan kembali pakta itu ditunda pada bulan Juni dan belum dilanjutkan di bawah Raisi. Kekuatan Barat telah mendesak Iran untuk kembali ke perundingan.

Pangeran Faisal berbicara selama kunjungan ke Riyadh oleh kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa Josep Borrell, yang mengatakan dia telah memberi tahu mitranya tentang prospek untuk memulai kembali pembicaraan nuklir.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

+62

Proklamator.id – Kabar gembira bagi masyarakat Indonesia yang mempunyai harapan untuk berangkat Umroh di Saudi Arabia, seiring dengan perkembangan penanganan COVID-19 di Indonesia dengan...

Advertisement
close