Home ROMANSING HUT GMNI ke-67: Sterilitiet GMNI, Yang Tidak Murni Terbakar Mati

HUT GMNI ke-67: Sterilitiet GMNI, Yang Tidak Murni Terbakar Mati

by Wiwid Widjojo
HUT GMNI ke-67: Sterilitiet GMNI, Yang Tidak Murni Terbakar Mati

PROKLAMATOR – Penggalan penutup pidato yang menggelora dari Bung Karno ini dipekik dalam Konferensi Besar Gerakan mahasiswa nasional Indonesia (GmnI) di Kaliurang Yogyakarta sekira tanggal 17 Februari 1959, ketika organisasi pengusung Marhaenisme ini masih berusia sekitar setengah dekade.

“Lenyapkan sterilitiet dalam Gerakan Mahasiswa! Nyalakan terus obor kesetiaan terhadap kaum Marhaen! Agar semangat Marhaenisme bernyala-nyala murni! Dan agar yang tidak murni terbakar mati!”

Bukan tanpa alasan Bung Karno mendesak GmnI untuk melenyapkan sterilitiet di gerakan mahasiswa. Sterilitiet yang dimaksud dalam bahasa Indonesia berarti kemandulan, kemandulan baik dalam bentuk gerakan perjuangan maupun pemikiran. Kekhawatiran lebih dari setengah abad silam ini justru kian kuat dirasakan, dan kini kerap dijadikan kritik kepada entitas mahasiswa secara luas.

Perasaan ini berkecamuk dalam peran mahasiswa umum yang terus bertransformasi lebih untuk mengejar angka indeks prestasi semata. Tanpa mendalami, menghayati secara seksama terhadap disiplin ilmu masing-masing untuk digunakan bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Orientasi kuantitas yang tiada tara ini diperparah karena tumbuh ditengah ketimpangan dan kemiskinan yang semakin menjalar di Indonesia.

Pada sisi yang lain pemikiran begitu tersita untuk menghitung rumus komersialisasi pendidikan a la Uang Kuliah Tunggal (UKT) dan kesibukan menjabarkan tuntutan lulus tepat waktu, bukan pada waktu yang tepat. Sementara itu kolom media massa masih sepi dari opini gerakan mahasiswa, meja diskusi terus didominasi oleh drama atau fanatisme berlebih pada sepak bola eropa.

Mari Dekati Massa Marhaen

Secara hakikat kaum progresif revolusioner berada dalam satu barisan dengan massa marhaen yang terdiri dari tiga unsur: kaum proletar Indonesia (buruh), kaum tani melarat Indonesia, dan kaum melarat Indonesia yang lain. Namun bagi “Elit GmnI” posisi ini tidak terlampau menarik.

Baca Juga :   Bung Karno dan NU

Hal yang paling menarik bagi mereka adalah dekat dengan politik praktis atau menjadi bagian dari kekuasan. Mengekor pada politik garis senior tidak lagi sebagai pilihan, tetapi sudah menjadi lumrah bahkan keharusan. Namun amat disayangkan tak berdampak secara sistemik kepada massa marhaen.

Dalam hal ini, ketika gerakan mahasiswa tanpa massa marhaen, maka gerakan itu akan mandul dus tak murni. Perpecahan antar “Elit GmnI” masa ini dilatari bukan lah karena ideologi dan asas, tetapi karena ada kepentingan. Kepentingan yang dimaksud juga bukan merupakan kepentingan rakyat banyak.

Sama sekali tak bermaksud menyampingkan sebagian lain kader GmnI yang tak tergolong elit, masih terus melakukan kegiatan turun basis, analisis sosial dan pengorganisasian massa marhaen.

Akan tetapi marilah merefleksikan gerakan ini yang kian hari semakin ekslusif. Karena itu juga yang menjadi alasan penyematan kata elit sebelum akronim GmnI.

Dari pelbagai kesempatan, kerangka “Elit GmnI” terformat lebih pada isu-isu kekuasan dan mainstream yang dikendalikan kepentingan penguasa, senior, bahkan media massa. Sehingga sedikit demi sedikit obor kesetiaan pada kaum marhaen terus memudar.

Untuk itu, bertepatan dengan Hari Ulang Tahun (HUT) GmnI ke-67 ini, kader GmnI harus lah segera kembali pada real-nya gerakan.

Kembali ke Gerakan

Sebagai tahap awal kadar kembali ke gerakan menurut Bung Karno dan sudah tentu seluruh kader pahami, dimulai dengan machtsvorming atau menyusun kekuatan dan machtsaanwending atau menggunakan kekuatan.

Artinya terlebih dahulu dengan menyingkirkan nilai individualis dan merampungkan dengan prinsip kebersamaan untuk digunakan sebagai suatu kekuatan.

Penggunaan kekuatan dilanjutkan dengan massa aksi yang non-koperatif dan radikal. Non-kooperatif yang dimaksud merupakan sikap keberpihakan pada marhaen, bukan sikap pencari jalan tengah yang kompromis.

Baca Juga :   Integritas dan Moralitas Bung Hatta

Kemudian radikal yang dimaksud disini bukanlah suatu perilaku anarkis terapan, vandalis murni, atau cara-cara yang justru melemahkan negara. Tapi mengakar yang konsisten pada perjuangan menguatkan negara dalam mewujudkan cita-cita proklamasi.

Pada akhirnya, dinamika organisasi sepatutnya dibalut dengan prinsip dalam satu barisan serasa sama bahagia. Bukan intrik yang memecah belah. Bukan kepentingan yang durjana. Pastikan terus GmnI bersama buruh tani, bersatulah segera, marhaen pasti menang!.

Angga Hermanda


Oleh: Angga Hermanda, Penulis adalah Alumni GmnI Komisariat Untirta, Serang Banten

Artikel Lainnya

Apakah kelemahan kita: Kelemahan kita ialah, kita kurang percaya diri sebagai bangsa, sehingga kita menjadi bangsa penjiplak luar negeri, kurang mempercayai satu sama lain, padahal kita ini asalnya adalah Rakyat Gotong Royong. Terima Baca Selengkapnya

Untuk Diperhatikan!
close