Home WOW Ideologi Kritik Mazhab Frankfurt

Ideologi Kritik Mazhab Frankfurt

by Proklamator
Ideologi Kritik Mazhab Frankfurt

Mazhab Frankfurt, sebagaimana dikenal dari namanya, adalah suatu gerakan pemikiran filosofis yang dikembangkan di Universitas Frankfurt mulai tahun 1930an. Bila yang “dilibatkan” dalam Mazhab Frankfurt adalah Horkheimer, Adorno, Marcuse, dan Habermas, maka gerakan tersebut identik dengan gerakan Teori Kritis. Namun ada pula ahli yang memahami mazhab tersebut lebih dari keempat tokoh tersebut, dan memasukkan Wellmer ke dalamnya (Geuss, 1989: 1). Menyebut Mazhab Frankfurt, sesungguhnya menyebut riwayat “tradisi intelektual” yang panjang. Horkheimer, Adorno, dan Marcuse adalah perintis gerakan pemikiran ini, yang kemudian sering pula disebut sebagai Generasi Pertama. Murid yang pernah ditolak oleh Horkheimer, Habermas, tidak dapat dilepaskan dari tradisi Mazhab Frankfurt. Ia disebut termasuk sebagai Generasi Kedua Madzab Frankfurt, sedangkan pada Institute for Social Research di bawah kepemimpinan Axel Honneth telah muncul Generasi Ketiga Mazhab Frankfurt.

Tradisi intelektual ini disebut sebagai “mazhab” lantaran beberapa tokoh yang terlibat di dalamnya disatukan oleh suatu proyek teoretis (Honneth, 1987: 347). Melalui “buku paling gelap” Dialectic of Enlightenment, Horkheimer dan Adorno mengkonsepsikan proses penghancuran diri Pencerahan (Habermas, 1992: 106). Seluruh proses peradaban manusia ditentukan oleh suatu logika reifikasi gradual yang dirangkai dalam gerak oleh tindakan pertama penguasaan terhadap alam dan memuncak pada munculnya Fascisme (Honneth, 1987: 360). Lantaran awalan yang demikian, banyak yang menilai bahwa proyek teoretis yang dibangun oleh Mazhab Frankfurt adalah “proyek teoretis yang muram” karena menyoroti ekses dan sisi gelap perkembangan masyarakat modern. Pertanyaan yang kemudian mengemuka: Apakah sedemikian “gelap” pembacaan mazhab ini atas masa depan masyarakat modern? Apakah mungkin, dalam kerangka “kritik ideologi”, analisis mereka diterima sebagai upaya rasional-etis untuk memperlihatkan konsekuensi-konsekuensi modernitas yang gambaran “muram”-nya semakin kelihatan nyata pada masyarakat kita sekarang ini?

Baca Juga :   Kontroversi Intisari Pancasila dan Apa Inti Al-Quran Kata Imam Alghazali?

 Kritik Ideologi & Mazhab Frankfurt

Terdapat tiga tesis yang mencirikan “Teori Kritis” Mazhab Frankfurt, yakni: (1) Teori kritis memiliki titik pijak khusus sebagai pengarah tindakan manusia yang bertujuan untuk mencerahkan agen agar dapat menetapkan kepentingan mereka yang sesunggunya dan dengan demikian secara inheren bersifat emansipatoris, karena hendak membebaskan kesadaran manusia dari rasa frustasi. (2) Teori Kritis memiliki muatan kognitif, dalam arti, teori kritis merupakan bentuk-bentuk pengetahuan. (3) Teori Kritis secara epistemologis berbeda secara esensial dengan teori-teori yang dikembangkan dalam ilmu alamiah, karena teori ilmu alamiah “mengobjektivasi”, sedangkan teori kritis bersifat “refektif”.

Teori Kritis dengan demikian merupakan suatu teori refleksif yang memberikan pada agen suatu jenis pengetahuan yang secara inheren mencerahkan dan emansipatoris (Geuss, 1989: 1-2). Anggota-anggota Mazhab Frankfurt berpegang pada tiga tesis tentang Ideologiekritik, yakni: (1) Bahwa kritik radikal atas masyarakat dan kritik atas ideologi yang dominan merupakan dua hal yang tak terpisahkan, dan dengan demikian kritik ideologi meski menjadi bagian integral dari riset sosial dari suatu teori kritis atas masyarakat. (2) Kritik ideologi tidak hanya merupakan sebentuk “kritisisme moral” yang tidak dapat dikritisi, namun merupakan suatu kiprah kognitif, suatu bentuk pengetahuan dan oleh karenanya dapat dikritisi. (3) Kritik ideologi (dan mestinya semua teori sosial yang menjadi bagiannya) memiliki struktur kognitif yang secara signifikan berbeda dari ilmu-ilmu alamiah (natural sciences), sehingga kritik ideologi perlu melakukan perubahan atas pandangan epistemologis yang diwarisi dari empirisme tradisional sebagaimana modelnya ditemukan dalam kajian-kajian ilmu kealaman (Geuss, 1989: 26). Kritik menjadi kritik ideologi bilamana kritik tersebut berusaha menunjukkan bahwa validitas suatu teori telah secara tidak memadai dicabut dari konteks tempat munculnya teori tersebut, dan bahwa di balik teori tersembunyi suatu campuran antara kekuasaan dan validitas yang tidak dapat diterima. Kritik ideologi hendak menunjukkan bagaimana konteks makna dan konteks realitas terbentuk dan bagaimana pula relasi internal dan relasi eksternal ini dijumbuhkan lantaran pengkaitannya dengan kekuasaan (Habermas, 1992: 116).

Baca Juga :   Sejarah Metode Berpikir dan Gerakan Aswaja

Secara garis besar, bentuk kritik ideologi dapat dibedakan dalam tiga wujud: sebagai kritik atas dimensi epistemis dari ideologi, sebagai kritik atas dimensi fungsional ideologi, dan sebagai kritik atas sifat genetis ideologi sebagai bentuk kesadaran. Sebagai kritik dalam dimensi epistemis ideologi, yang digugat oleh Mazhab Frankfurt adalah “positivisme” di balik bangunan “empirisme logis” yang membangun ilmu alamiah. Oleh Positivisme dinyatakan bahwa pernyataan yang tidak memuat kandungan kognitif tidak dapat dinyatakan salah atau benar, dan dengan demikian nir-arti (meaningless). Rasionalitas positivisme kemudian dibangun atas dasar pada pernyataan-pernyataan deskriptif tentang fakta, dan dengan demikian menyingkirkan jenis pernyataan normatif dan metafisis dari kategori “rasionalitas” (Geuss, 1989: 26-28). Pertanyaan sederhana yang dapat diajukan: Adakah semesta realitas dan pengalaman manusia yang dapat dijadikan pegangan pengambilan keputusan “rasional” hanyalah yang “kognitif” saja? Tidakkah pernyataan-pernyataan preskriptif memiliki “rasionalitas”-nya sendiri? Jika tidak, bagaimana kemudian dapat ditentukan suatu perbuatan itu baik atau buruk? Bagaimana pula dengan pernyataan-pernyataan yang “non kognitif” tentang, misalnya, “keagungan ciptaan Tuhan”? Sungguhkan dalam penalaran logika empiris yang ketat tidak dapat disimpulkan bahwa “alam semesta diciptakan oleh Tuhan”? Yang konsistem dengan “jalan” empirisme logis memang akan sampai, setidaknya, pada academic atheism sebagaimana Bertrand Russell.

Artikel Lainnya

Apakah kelemahan kita: Kelemahan kita ialah, kita kurang percaya diri sebagai bangsa, sehingga kita menjadi bangsa penjiplak luar negeri, kurang mempercayai satu sama lain, padahal kita ini asalnya adalah Rakyat Gotong Royong. Terima Baca Selengkapnya

Untuk Diperhatikan!
close