Home Literasi Kemanusiaan dan Cinta Ala Erick Fromm dan Sosrokartono

Kemanusiaan dan Cinta Ala Erick Fromm dan Sosrokartono

by Proklamator
Kemanusiaan dan Cinta Ala Erick Fromm dan Sosrokartono

Erich Fromm dan Sosrokartono, betapa jauh jarak yang memisahkan mereka. Betapa berbeda keduanya. Fromm lahir di Jerman, lalu mengembara ke Amerika Serikat, akhirnya meninggal di Swiss. Sosrokartono lahir di Jepara, lalu berkelana keliling Eropa, dan akhirnya, setelah meninggal, dimakamkan di Rembang.

Fromm dibesarkan dalam lingkungan keluarga ulama Yahudi. Setelah realitas dunia yang centang perenang membuka matanya, dia memeluk ateisme formal. Dia menampik agama tapi meyakini kehadiran Tuhan: Tuhan yang selalu mencintai, Tuhan yang sepatutnya dicintai.

Sosrokartono dibesarkan sebagai bangsawan dalam lingkungan keluarga priayi. Setelah menyaksikan bahwa dunia hanyalah drama ketidakadilan yang menjenuhkan, dia mendengar detak jantung Islam dalam tubuh budaya Jawa. Atas nama kasih sayang, dia mendermakan segenap kehidupannya untuk menolong rakyat kecil.

Fromm adalah psikolog, filusuf, cendekiawan publik, aktivis, dan politikus. Sementara itu, Sosrokartono adalah poliglot, wartawan, juru runding, guru, tabib, pelukis, dan pemimpin pergerakan kemerdekaan Indonesia.

Betapa berbeda dunia mereka berdua. Betapa jauh jarak yang memisahkan mereka. Tapi, walaupun terpisahkan oleh jarak yang sebegitu jauh, mereka ternyata bertemu juga, tidak dalam dunia nyata, tetapi dalam idealisme kemanusiaan. Kemanusiaan memang punya semacam sihir: mempertemukan dua—bahkan lebih—identitas yang berbeda. “Kemanusiaan,” tulis Pramoedya Ananta Toer dalam salah satu noveletnya, Bukan Pasar Malam (2009), “kadang-kadang menghubungkan seorang dari kutub utara dan seorang dari kutub selatan.”

Mengapa itu dapat terjadi? Barangkali, karena dalam kemanusiaan kita berbicara dengan bahasa cinta. Dalam kemanusiaan, seperti seorang jamaah haji yang sedang bertawaf mengelilingi Kakbah, kita memakai helaian kain tak berjahit sebagai baju, setelah melepas berbagai jenis, ragam, corak, mode, dan warna pakaian. Tidak ada lagi atribut yang membedakan kita sebagai manusia. Tidak ada lagi simbol yang memisahkan kau dan aku, mereka dan kami. Tidak ada lagi jarak di antara kita. Kita menyatu dalam kemanusiaan, dalam takwa, dalam cinta, dalam damai, dalam harmoni, dalam kemuliaan sebagai sesama manusia.

Baca Juga :   MDH dan Kemiskinan Filsafat Karl Marx

Kemanusiaan dan cinta, Erich Fromm dan Sosrokartono memang menyerukan pesan itu. Tapi mengapa mereka tampil sebagai juru ingat kemanusiaan dan cinta? Mereka adalah anak zamannya, zaman yang gelisah oleh perang, zaman yang sibuk mengejar sebanyak-banyaknya keuntungan dalam perdagangan.

Erich Fromm lahir pada permulaan abad ke-20, meninggal pada 1980. Sosrokartono pun lahir pada masa yang kurang lebih sama: beberapa tahun sebelum abad ke-19 berakhir. Dia meninggal setelah Indonesia merdeka. Tak sekadar menyaksikan dari luar, sebagai insider mereka mengalami langsung dua perang dunia, yaitu perang dunia pertama dan perang dunia kedua.

Saat perang dunia pertama, kemunafikan manusia terpampang nyata di depan mata Fromm. Ketika di kelas, guru-gurunya berceramah tentang moralitas dan perdamaian. Tapi di luar kelas, mereka menjadi srigala yang haus darah, yang memangsa srigala lain. Fromm juga melihat, betapa mudah manusia menyerahkan akal sehat dan kemerdekaannya kepada orang lain, hanya demi memperoleh keselamatan dan kebersamaan dan rasa aman. Betapa mudah manusia dikalahkan oleh ketakutannya sendiri.

Mengapa manusia, yang dianugerahi potensi cinta, berlaku demikian? Mengapa ada konflik, ada perang, ada permusuhan, ada kezaliman? Dengan jalan apa perang disudahi, dengan jalan apa pula perdamaian diwujudkan? Mungkin, ya mungkin saja—saya tak tahu pasti apa yang bergolak dalam dada Fromm saat itu—pertanyaan-pertanyaan itulah yang menuntun Fromm untuk mendalami psikologi sosial. Disiplin keilmuan ini menghubungkan dimensi kejiwaan manusia dengan realitas kemasyarakatan.

Dari disiplin keilmuan yang ditekuninya itu, kita dapat menebak, bagi Fromm perang tak selalu, tak harus, dan tak semata-mata disebabkan oleh populasi manusia yang kian membengkak di satu sisi dan sumber daya alam yang kian menipis di sisi lain. Fromm seolah-olah membenarkan kearifan dari Timur: peparangan di luar adalah gema dari peperangan dalam jiwa manusia. Penyebabnya, manusia mengalami problem eksistensial yang tak terjawab pada zaman modern. Problem eksistensial itu antara lain adalah keterasingan, keterpisahan, kesepian, kesendirian, dan ketakberdayaan di hadapan alam, di hadapan nasib.

Baca Juga :   Politik Ghaib Tan Malaka
Ke Pages Berikutnya >

Artikel Lainnya

Apakah kelemahan kita: Kelemahan kita ialah, kita kurang percaya diri kita sebagai bangsa, sehingga kita menjadi bangsa penjiplak luar negeri, kurang mempercayai satu sama lain, padahal kita ini asalnya adalah Rakyat Gotong Royong. Terima Baca Selengkapnya

Untuk Diperhatikan!