Manusia Dan Kreativitas Yang Terbunuh - Ever Onward Never Retreat
Connect with us

Hi, what are you looking for?

SPG HONDA
SPG HONDA
SPG Honda di acara IIMS Jakarta. FILE/DOK/IST. PHOTO

BAPER

Manusia Dan Kreativitas Yang Terbunuh

Prev1 of 3
Use your ← → (arrow) keys to browse

Proklamator.id – Tolak ukur kemajuan sebuah bangsa seringkali dilihat dari ekonomi, dan pendidikan formal. Ekonomi maksudnya adalah soal kesetabilan dan pertumbuhan yang (dianggap) menentukan kesejahteraan rakyat. Selain itu, juga dapat dilihat dari kemampuan suatu bangsa terbebas dari hutang luar negeri—yang mencengkram dan menyebabkan ketergantungan. Sedangkan pendidikan formal mampu menjadi tolak ukur kemajuan, manakala pendidikan ini memiliki kualitas yang bagus. Sehingga dapat dikatakan, semakin banyak yang berpendidikan tinggi, maka negara tersebut akan semakin memiliki kualitas masyarakat baik, dan semakin membuat bangsa tersebut maju.

Walaupun begitu, pendidikan yang berkualitas bagus memang belum menjamin penyerapan penduduk angkatan kerja. Maksudnya saat seorang anak berpendidikan tinggi dan memiliki kualitas yang baik, belum tentu setelah lulus dari pendidikan formalnya akan mendapatkan pekerjaan. Berikut adalah data dari Badan Pusat Statistik dari tahun 2015-2017 tentang penduduk usia kerja dari usia 15 tahun ke atas.

Statistik

Data Statistik

Angkatan kerja yang tidak mampu terserap mendapatkan pekerjaan, pada akhirnya mereka bekerja tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan yang dimiliki. Mereka bekerja atas dasar kebutuhan pasar. Jika pasar membutuhkan banyak pekerja di bidang Frontliner Bank, Front Office, Sales Promotion Girl (SPG), Sales Promotion Boy (SPB), Marketing, maka meraka pun akan terserap dalam kebutuhan pasar tersebut. perkerjaan tersebut adalah beberapa pekerjaan yang mudah ditemui dalam jobseeker.

Harapan yang besar pada peluang pekerjaan, telah membuat orang-orang semakin giat dalam Jobseeker. Selalu berusaha, hingga sampai akhirnya mendapatkan pekerjaan. Setelah mendapatkan pekerjaan, ia pun memiliki semangat yang tinggi untuk bekerja dengan giat agar dapat berprestasi dalam perusahaanya dan mendapatkan promosi naik jabatan yang lebih tinggi dari sebelumnya. Semangat para pekerja untuk berprestasi (mengejar jenjang karir) menurut Herbert Marcuse adalah sebuah bentuk penindasan jenis baru dari kapitalisme. Karena semakin seorang pekerja mengejar jenjang karir, maka ia akan semakin masuk dalam perangkap kapitalisme.

Baca Juga:   Mengapa Sukarno “Dibunuh?”

Semangat tersebut dikatakan sebagai perangkap kapitalisme, karena disana ia mulai mengalami pribadi yang teralienasi. Maksudnya, ia mulai mengalami ketidak sadaran atas yang dialami, jika ia telah mengalami penindasan, dan ia telah menjadi orang asing di lingkungan sekitarnya, karena terlalu sibuk dengan pekerjaaanya. Marcuse mengatakan semangat mengejar prestasi dalam pekerjaanya adalah sebuah bentuk ketaklukan, ketaatan kepada aturan-aturan perusahaan.

Ketaklukan, ketaatan yang dilakukan oleh para pekerja itu terlihat saat seorang Frontliner Bank, front Office, Sales Promotion Girl (SPG), Sales Promotion Boy (SPB), Marketing, memiliki desain kalimat yang sama dalam setiap berucap kepada customer. Kurang lebih kalimat yang sering diucapkan kepada customer sebagai berikut:

“Selamat datang…. ada yang bisa di bantu?”

“Terimakasih, Selamat datang kembali”.

Para pekerja dalam menyambut customer selalu berdasarkan aturan perusahan. Aturan tersebut disebut dengan Standar Oprasional Prusahaan (SOP). Semua memiliki ukuran yang sama. Seperti itulah kehidupan orang modern. Semua didasarkan pada ukuran, standar, dan penyamaan. Karena semua hal yang terukur adalah sebuah kerasionalan.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Di masyarakat modern semua orang diarahkan kedalam semangat rasional. Sehingga pengetahuan, pemikiran yang tradisional dianggap sebagai suatu yang irasional. Jika pada masa pra modern masyarakat masih memiliki pemikiran yang tradisional. Seperti halnya masih percaya pada hal-hal yang gaib disekitar kita. Sehingga, saat seseorang sakit pun dikaitkan dengan hal-hal gaib. Penyebuhannya pun dengan hal-hal gaib.

Misalnya saat orang mengalami sakit demam, maka orang tersebut dianggap telah diganggu oleh makhluk gaib yang ada disekitar. Sehingga perlu dilakukan ritual slametan, pergi ke Dukun (Geertz, 2014). Lantas seorang Dukun memberikannya sebuah jimat yang dipercayai mampu memberikan kesembuhan kepada yang sakit.

Baca Juga:   Generasi Bangsa Adalah Mereka Yang Menyisakan Kebaikan Walau Tanpa Penghargaan

Prev1 of 3
Use your ← → (arrow) keys to browse
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BAPER

Proklamator.id – Di tengah mentalitas pecundang yang melumpuhkan prestasi bangsa, seorang musisi prodigy asal Bali, Joey Alexander, mengibarkan bendera Indonesia menjulang tinggi di belantika...

Advertisement
close