Memahami Mental Psikologi Pasukan Khusus Melalui Film Black Hawk Down (2001) - Ever Onward Never Retreat
Connect with us

Hi, what are you looking for?

Black Hawn Down

FYI

Memahami Mental Psikologi Pasukan Khusus Melalui Film Black Hawk Down (2001)


Proklamator ID – Sebagian besar dari kita pernah menonton film Black Hawk Down (2001), atau setidaknya pernah mendengarnya. Film ini menceritakan Pertempuran Mogadishu, bagian dari Operasi Gothic Serpent. Pertempuran ini terjadi pada 3-4 Oktober 1993, melibatkan 3 kesatuan pasukan khusus Angkatan Darat Amerika Serikat.

C Squadron 1st Special Forces Operational Detachment-Delta (1st SFOD-D). Bravo Company, 3rd Ranger Battalion, 75th Ranger Regiment. 1st Battalion, 160th Special Operations Aviation Regiment (Airborne) (The Night Stalker).

Black Hawk Down (2021) yang di sutradara kan oleh Ridley Scott mengambarkan dengan baik bagaimana beratnya situasi di medan pertempuran. Angkatan Darat Amerika serikat memiliki kendala untuk keluar dari serangan militan Somalia. Terlebih pada saat helikopter angkut jenis MH-60 A/L Black Hawks tertembak jatuh oleh RPG militan Somalia. Dua helikopter Black Hawks tertembak jatuh Super Six One dan Super Six Four.

Pilot dan co-pilot Super Six One berhasil diselamatkan oleh konvoi jeep pasukan Ranger AS, akan tetapi disaat “Super Six Four” ditembak jatuh, konvoi jeep Ranger posisinya jauh dan tidak bisa menjangkau lokasi untuk menyelamatkan Super Six Four. Delta sniper MSG Gary Ivan Gordon dan SFC Randy Shughart meminta izin kepada Major General William F. Garrison untuk mengevakuasi kru Super Six Four.

Awal mulanya permintaan dari Delta sniper ditolak oleh Major General William F. Garrison, akan tetapi setelah memahami posisi konvoi jeep Ranger dan Delta sniper berada di helikopter Super Six Two yang hanya bisa menjangkau lokasi jatuhnya Super Six Four keputusan berubah. Jenderal Garrison menanyakan kepada Gordon dan Shughart apakah mereka siap menangung segala resikonya ? Besar kemungkinan konvoi jeep tidak akan bisa menjangkau mereka dan Delta sniper akan berada diposisi sendirian 4. Gordon dan Shughart, siap dengan segala resiko yang akan mereka terima.

Baca Juga:   Kaukus Kebangsaan dan Forum Wacana UI Gelar Webinar Bertajuk "Amandemen Kelima UUD '45: Prespektif Demokrasi Konstitusional"

Gordon dan Shughart tiba dilokasi jatuhnya Super Six Four dimana semua kru dan co- pilot tewas kecuali sang pilot CW 3 Michael J. Durant. Gordon langsung mengevakuasi Durant dari kursi pilot kepinggir tembok dan Shughart memberikan tembakan perlindungan. Kondisi Durant cedera tidak mampu berdiri dan berjalan. Setelah di evakuasi Durant menanyakan kepada Shughart “dimana pasukan penyelamat ?”. Shughart menjawab “Kami pasukan penyelamat mu.” Durant terkejut seakan tidak mempercayai bahwasannya hanya dua orang yang akan mengevakuasinya.

Gordon dan Shughart kembali ke lokasi Super Six Four untuk menahan gerakan militan Somalia. Jumlah militan Somalia ada sekitar 300 orang dicampur dengan warga sipil tidak bersenjata. Dibagian inilah kualitas pasukan khusus Tier I digambarkan dengan baik. Setelah menahan militan Somalia sekian lama MSG Gary Ivan Gordon tertembak di kepala.

Shughart terkejut mendengar tembakan di kepala rekannya, ia langsung memastikan kondisi Gordon dimana telah tewas terbunuh. Shughart langsung mengambil senapan AR-15 Gordon, dan memberikannya kepada Durant. Durant yang menjaga bagian belakang dengan mengunakan MP5K melihat heran Shughart mememberikan AR-15 milik Gordon. Shughart berkata “Gordon sudah tidak ada, saya akan berada di helikopter. Semoga beruntung.” Shughart langsung kembali ke posisi jatuhnya Super Six Four, Durant yang terkejut dikarenakan pasukan penyelamat hanya tersisa satu orang. Shughart bertahan di dalam Super Six Four dengan senjata dan peluru terbatas. Dia menembak senjatanya M14 hingga pelurunya habis, menganti senjatanya dengan M9 dan MP5K hingga tewas setelah tertembak berkali-kali dari segala arah.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Adegan ini mengambarkan dengan baik kualitas pasukan khusus. Bukan dalam kemampuan menembaknya. Melainkan Shughart menerima kematian Gordon dengan cepat dan fokus menjalankan tugasnya. Shughart juga memikirkan keselamatan Durant dengan memberikannya Senapan AR-15 milik Gordon. Pasukan khusus secara kemampuan fisik umumnya tidak berbeda jauh dengan pasukan regular. Yang membedakan mereka adalah kekuatan prajurit bergantung dengan kekuataan sesama rekannya. Mental yang lemah dan tekanan psikologi kehilangan rekan bisa membuat seorang prajurit lari dari pertempuran atau menyerbu tidak terkendali. Shughart mampu mengendalikan diri dan bertarung sebagaimana pasukan khusus dilatih selama pendidikan.

Baca Juga:   Penyiraman Air Keras ke Novel Baswedan Adalah Rekayasa? Ini Kata Kuasa Hukumnya!

Michael J. Durant ditawan oleh militan Somalia. Ia dibebaskan setelah 11 hari ditawan.

MSG Gary Ivan Gordon dan SFC Randy Shughart mendapatkan medali tertinggi dalam Angkatan Darat Amerika Serikat “Medal of Honor”. Gordon dan Shughart adalah dua prajurit pertama yang mendapatkan “Medal of Honor” setelah Perang Vietnam 1955 – 1975.


Dhia Sukmahadi Putra Nugraha, Mahasiswa Universitas Jendral Soedirman Purwokerto

Click to comment

Advertisement
close