Connect with us

Hi, what are you looking for?

Szetu Mei Sen (tengah) diantara BK dan istri PM RRC

ROMANSING

Mengenal Tokoh Etnis Tionghoa Asal Sukabumi Kepercayaan Bung Karno, Szetu Mei Sen Menjadi Korban Tragedi G30S


Proklamator.id – Masih banyak ulasan sejarah bangsa Indonesia yang masih tersembunyi, baik yang tercatat maupun yang dilupakan. Salah satunya adalah Szetu Mei Sen, tokoh asal Sukabumi beretnis Tionghoa yang bertugas membantu Presiden Soekarno sebagai penterjemah bahasa mandarin.

Diketahui, Szetu Mei Sen dilahirkan di Sukabumi pada tahun 1928 dari keluarga Tionghoa yang mempunyai jiwa Nasionalisme Indonesia. Dikabarkan, Ayahnya bernama Szetu Tjan menjadi aktivis yang konsentrasi mengadvokasi dunia pendidikan sekaligus menjadi Kepala Sekolah Menengah Tionghoa Guang Ren dan Pa Zhong, sedangkan ibunya Szetu Mei merupakan seorang guru.

Bangsa Indonesia sebelumnya menghadapi penjajah berupa semangat perlawanan melawan imperialisme, ayahnya juga turut andil dalam mengusir Jepang di Indonesia bersama beberapa kaum nasionalisme Indonesia.

Masuknya jepang ke Indonesia, pada saat itu Mei Sen masih berumum 14 tahun ikut andil dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, lebih tepatnya pada tahun 1942 bersama Pa Sen, meskipun harus mengambil konsekuensi dengan dijebloskan oleh pemerintahan Jepang di Indonesia bersama ibunya di Tahanan selama 8-9 tahun.

Dengan waktu yang masih belum dewasa, Mei Sen dan Pa Sen harus menjadi tulang punggung bagi dirinya dan merawat adik-adiknya yang masih kecil berjumlah tiga.

 

Menjadi Wartawan Koran Tian Shen Ri Bao Hingga Bertemu Presiden Soekarno

Selain bergerak menjadi penerjemah Presiden Sukarno untuk Bahasa Mandarin ketika mendapatkan tamu dari Republik Rakyat Cina (RRC), Stezu Mei Sen menekuni dunia jurnalisme.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Usia 19 merupakan umur yang masih belia, tepat pada tahun 1946, ia sudah terjun menjadi wartawan dikotam “Tian Shen Ri-bao, kemudian ia ditugaskan ke Jogja untuk meliput kegiatan sidang KNIP.

Baca Juga:   Presiden Putin: Bung Karno Teman Karib Bangsa Rusia

Namun ia harus geser ke malang dikarenakan agenda sidang KNIP dipindah. Sehingga Mei San melanjutkan perjalanan dari Jogja ke Malang menggunakan jasa transportasi kereta api.

Perjalanan tersebut tanpa disengaja bertemu dengan Presiden Soekarno dalam satu gerbong. Hal tersebut menjadi istimewa bagi sosok San Mei dengan background etnis Tionghoa menjadi orang yang istimewa dimata Bung Karno.

Bukan tanpa sebab, Mei San mendapatkan amanah dari Bung Karno untuk menyampaikan pesan kepada pemerintah RRC, dikarenakan negara besar di Asia tersebut tidak mengikuti agenda Konferensi Asia Afrika (KAA) yang diselenggarakan di Bandung, 28 April 1955.

Sebelumnya, Indonesia sedang merencanakan KAA dan hendak mengikutsertakan Cina. Mei Sen sebagai wartawan diminta membocorkan “rahasia” bahwa ada beberapa negara yang tidak setuju dengan keikutsertaan RRC.

Diketahui agenda KAA merupakan gagasan ideal Bung Karno untuk mempersatukan negara kawasan Asia dan Afrika untuk bersama-sama melawan penjajahan kolonialisme dan imperialisme.  negara yang akan dijadikan negara sponsor yakni India, Pakistan, Srilanka dan Burma.

Namun Bung Karno menyayangkan sikap Pakistan dan Srilanka yang ketika itu sangat antikomunis, tidak ingin RRC ikut serta. Tentu saja hal tersebut menjadi ganjalan bagi Bung Karno yang justru menghendaki RRC berpartisipasi.

Bung Karno berharap kepada pemerintahan RRC dapat menilai situasi negara negara KAA yang berupaya memperjuangkan kemerdekaan atas kepentingan nasional masing-masing. Namun wakil daari Srilanka dan Pakistan dalam pidatonya diduga menyerang PM RRC Chou En Lai.

Singkat cerita, PM En Lai tidak terpancing, sehingga KAA dapat dilaksanakan dengan baik hingga mecapai keberhasilan dalam mempersatukan negara Asia Afrika.

Advertisement. Scroll to continue reading.

 

Tragedi G30S, Awal Desukarnoisasi Hingga Stezu Mei San Tidak Ingin Kembali ke Indonesia.

Baca Juga:   Beramai-Ramai Kembali Membunuh Sukarno Lagi

Tragedi Gerakan 30 September atau yang dikenal dengan G30S merupakan kisah yang memilukan melanda bangsa Indonesia pada saat lampau ditahun 1965, diduga adanya gerakan pembersihan elemen Sukarno dan pengikutnya, salah satunya adalah Mei Sen yang dekat dengan RRC menjadi target penangkapan karena menjadi penterjemah Bahasa Mandarin.

Diketahui bahwa negara RRC menganut faham Komunisme dan tentu bertolak belakang dengan ideologi Kapitalisme yang dianut oleh Amerika Serikat. Kedua negara pun mengalami perang dingin karena perbedaan ideologi.

Tentunya, banyak orang Indonesia yang berafiliasi PKI menganut Komunisme menjadi korban tragedi G30S.

Sehingga menyebabkan Mei Sen disarankan oleh Bung Karno pergi keluar negeri, dan akhirnya Mei Sen memutuskan pergi ke Macau.

Di Macau, Mei Sen pernah dmintai untuk bersaksi tentang keterlibatan RRC dalam pemberontakan G30S.

Kesaksian Mei Sen disampaikan lewat faks kepada Kolonel (Pur) Maulwi Saelan, Wakil Komandan Tjakrabirawa pada 7 Desember 2005. Oleh Saelan, faks tersebut disampaikan dalam forum diskusi buku “Kudeta 1 Oktober 1965—Sebuah Studi Tentang Konspirasi.”

Bahkan Presiden Megawati Soekarnoputri meminta Mei Sen kembali ketempat asal negaranya yakni Indonesia dan berlabuh ke Sukabumi. Namun ia tetap memutuskan tinggal di Macau hingga akhir hayatnya.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Walau tinggal di Macau, Mei Sen kerap “diminta” menjaga hubungan baik Indonesia dengan RRC sebagai dua negara berdaulat. Dan Mei Sen dianggap berjasa dalam menjaga hubungan Indonesia-RRC.

Mei Sen meninggal pada bukan Oktober 2010, tepat usia 82 tahun

Pada saat dilangsungkan upacara belasungkawa perpisahan terakhir pada tanggal 19 Oktober 2010 di rumah duka Jing Hu, Macau, nampaklah kebesaran Szetu Mei Sen yang dihargai dan dihormati rakyat kedua Negara, Indonesia-RRC.

Baca Juga:   Kongres II JAKER Tetapkan Widji Thukul Sebagai Ketua Umum Seumur Hidup

Dubes RRC di Jakarta Zhang Qiyue mengenang Mei Sen, “Sekalipun beliau (Mei Sen) telah meninggal dunia, apa yang beliau sumbangkan tetap berada di hati rakyat kedua bangsa.”

Mantan Presiden RI Megawati termasuk pengirim bunga dari Indonesia. Mantan Gubernur Macau, He Hou Hua berperan sebagai ketua panitia belasungkawa. Gubernur Macau, Cui Shi An pun memerlukan hadir menyatakan belasungkawa pada keluarga Mei Sen yang ditinggalkan.

Di Jakarta pernah dilangsungkan kegiatan “Mengenang Bapak Almarhum Szetu Mei Sen” yang diselenggarakan Lembaga Kerja Sama Ekonomi, Sosial dan Budaya Indonesia-Cina bersama keluarga mendiang Mei Sen pada tanggal 7 Maret 2011 di Grand Sahid Jaya.

Beberapa tokoh yang hadir di antaranya Megawati Soekarnoputri, Sudradjat (mantan dubes RI di Beijing ) dan mantan Komandan Tjakrabirawa, Maulwi Saelan.

Terlepas dari pasang surut hubungan bilateral Indonesia-RRC yang problematis, ada banyak hikmah yang bisa dijadikan pelajaran, terutama orang Sukabumi. Dan banyak tokoh dari Sukabumi yang berkontribusi positif dalam sejarah bangsa Indonesia.


Source: Dari berbagai sumber dan tulisan jurnalis Hong Kong bernama Chan Chung), INDONESIA TEMPO DOELOE (Komunitas Pemerhati Sejarah) : MENGENAL SZETU MEI SEN | Facebook

Advertisement. Scroll to continue reading.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

KEPO

Proklamator.id – Soekarno lebih kita kenal sebagai tokoh nasionalis Indonesia. Meskipun ia menyerap pemikiran banyak tokoh dari beragam ideologi seperti Marxis, Sosial Demokrasi (Sosdem), Islamis...

ROMANSING

Proklamator.id – “Hubungan baik ini (Indonesia-Rusia) dibangun oleh teman karib bangsa kami Presiden pertama Indonesia Sukarno” – Vladimir Putin Hubungan diplomatik Indonesia dengan Rusia...

DELIVERY

Proklamator.id  – Tidak benar bahwa gedung proklamasi itu penyerahan atas sumbangan dari oknum yang mengaku-ngaku sebagai milik keluarganya, sebab hal itu terbantahkan dari keterangan...

ROMANSING

Proklamator.id – Beberapa saat lalu ada diskusi publik yang dipicu oleh pernyataan seorang ustad prihal susunan Panca Sila sebagaimana dipidatokan Bung Karno pada persidangan...

Advertisement
close