Momentum Kongres IV PA GMNI, Eva Kusuma Sundari: Pancasila Sebagai Penuntun Kehidupan - Ever Onward Never Retreat
Connect with us

Hi, what are you looking for?

Eva K Sundari, MA., MDE Direktur Institut Sarinah.

DELIVERY

Momentum Kongres IV PA GMNI, Eva Kusuma Sundari: Pancasila Sebagai Penuntun Kehidupan


Proklamator ID  – Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Eva Kusuma Sundari menilai terpilihnya Hakim Mahkamah Konstitusi, Arief Hidayat pada Kongres IV PA GMNI Pada Senin s/d Rabu, 6-8 Desember 2021 merupakan figur yang tepat dalam mengawal Pancasila, serta menjawab Nasionalisme dalam Menghadapi Tantangan Zaman.

“Soal terpilihnya Bung Arief, saya pikir perlu teman – teman mencari figur yang berbobot tinggi, dan saya apresiasi setinggi-tingginya kepada beliau yang mengembangkan mata kuliah filsafat Pancasila sampai dengan 9 SKS, ini bukti konkret sebagai kader mengembangkan dan mengintegrasikan Pancasila dalam kurikulum, Dan menurut saya ini big step,” ujarnya dalam pesan suara ketika dihubungi oleh Proklamator ID, Senin (13/12/2021).

Eva Sundari, yang merupakan Direktur Institute Sarinah, berharap Pancasila dapat dijadikan sebagai philosofische-grondslag menuju tatanan Indonesia merdeka, baik sebagai dasar negara (meja statis) maupun bintang penuntun (leitstar) dinamis ke arah mana tujuan kemerdekaan Indonesia.

Pasalnya, Pancasila harus diterapkan dalam sendi kehidupan baik secara teoritik maupun praktik kedalam profesi masing-masing.

“Sosok beliau yang dapat mengintegrasikan Pancasila kedalam profesi-profesi masing – masing dari kader yang patut untuk menjadi tantangan kedepannya. Kalau hanya pancasila hanya dijadikan sebagai wacana belaka, dan bukan dijadikan sebagai Working Ideology, maka seperti halnya Tong Kosong Nyaring Bunyinya,” imbuhnya.

Ia berharap figur yang dimiliki oleh Ketua Umum baru, dapat menginspirasi bagi alumni maupun kader GMNI saat ini yang masih berproses.

“Beliau menjadi figur yang telah melakukan kerja konkret, untuk mengintegrasikan Pancasila kedalam profesi beliau, maka bisa menjamin dan memimpin, agar para kader melakukan hal yang sama,” tambahnya.

Terpilihnya Arief Hidayat sebagai Ketua Umum PA GMNI menunjukkan sikap  keberpihakannya  secara konstitusi mengawal dan mengimplementasikan Pancasila, dan dapat diterapkan di lembaga Yudikatif seperti MK.

Advertisement. Scroll to continue reading.
Baca Juga:   Siapa Yang Bertanggung Jawab Dari Runtuhnya Ideologi Negara Atas Serapan Keyakinan Trans Nasional

Selain itu, transisi kepemimpinan di tubuh PA GMNI dapat menterjemahkan apa yang menjadi nawacita Bung Karno.

“Sikap pro konstitusionalisme beliau terhadap Pancasila, sehingga dapat ditularkan kepada beberapa profesi yang ada di MK,” sarannya.

“PA GMNI mempunyai peran moral terhadap transisi kepemimpinan dapat berjalan lancar, tapi juga sesuai dengan arah Proklamasi Kemerdekaan dan menuju Sosialisme Indonesia seperti halnya yang dicitakan oleh Bung Karno,” tambahnya.

“Nah tentu sebagai organisasi ideologis Bung Karno dan Pancasila To Bring Pancasila sebagai daily life framework, atau dalam istilah Bung Karno sebagai Bintang Pengarah dari kehidupan kita yang akan mendatang,” sampainya.

Ia membeberkan saran agar PA GMNI dapat memberikan peran perempuan dengan keterwakilan minimal 30% kepengurusan, sebagaimana yang diamanatkan dalam Konstitusi UUD ’45 dan Sila kedua pada butir Pancasila yakni “Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab”.

“Itu mandat konstitusi, dan sila 2. Jd harusnya PA GMNI jd model or pioner di ormas. Hasil riset juga menunjukkan kalau makin majemuk organisasi smkn kreatif, inovatif, dan solusional,” paparnya.

 

Pancasila Sebagai Solusi Atas Ketimpangan Ekonomi

Berdasarkan paparan dari Katadata.co.id, ketimpangan orang kaya dan miskin di Tanah Air masih tinggi, hingga lembaga keuangan Swiss, Credit Suisse menempatkan Indonesia di urutan keempat dengan disparitas kekayaan tertinggi.

Selain itu laporan dari Badan Pusat Statistik, per Maret 2016 Indeks Gini Ratio di Indonesia berada di angka 0,397. Meski mengalami penurunan, tingkat ketimpangan tersebut masih jauh dari target pemerintah. Pada 2019, pemerintah menargetkan nisbah Gini turun hingga 0,36.

Advertisement. Scroll to continue reading.

“Indeks Gini kita masih 0,39 yang menurutnya masih sangat timpang, dan menurut riset oxfam inequlity atau ketimpangan ekonomi di Indonesia the forth worst in the world atau peringkat 4 terburuk di dunia,” sampainya.

Berdasarkan survei lembaga keuangan Swiss, Credit Suisse, 1 persen orang terkaya di Indonesia menguasai 49,3 persen kekayaan nasional. (Katadata.co.id)

Untuk mengatasi ketimpangan ekonomi yang menguat di republik ini, maka pentingnya menghadirkan Pancasila sebagai role of model dalam penyelesaian fenomena tersebut.

Baca Juga:   Bedah Pemikiran Sukarno, GMNI Sumedang Ajak Mahasiswa ITB dan UNPAD

“Jadi orang yang menguasai jutaan hektar, gap antara level level gaji sangat jomplang, ini harus diperbaiki sesuai dengan nilai luhur pancasila,” tambahnya.

“Sehingga dengan fenomena yang destruktif dapat dikawal secara ideologis, dalam rangka mewujudkan tujuan proklamasi dalam berbangsa dan bernegara.,” tutupnya.

Click to comment

KEPO

Proklamator ID – Franz Magnis-Suseno menulis artikel ”Tantangan Pancasila Pasca-Orde Baru” di harian ini pada 17 November 2021. Dalam artikelnya, Romo Magnis-Suseno mengomentari artikel...

+62

Proklamator ID – Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Koko Radjasa berharap hasil dari agenda besar yakni Kongres PA GMNI, merujuk pernyataan dari Peter...

BAPER

Nyanyi Sunyi Seorang Bisu, … (Sebuah reportase batiniah_Think and Rethinking_ Kongres IV PA GMNI Bandung 2021. ‘Pemikirnya Marhaenis’?) … Kadang2 kok ada aja ya...

BAPER

Proklamator ID – Helatan Kongres IV Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (PA GMNI) yang diselenggarakan di Bandung pada tanggal 6 sampai 8 Desember...

Advertisement
close