Nasionalisme dan Globalisasi - Ever Onward Never Retreat
Connect with us

Hi, what are you looking for?

Sejumlah mahasiswa terlibat kericuhan saat berunjuk rasa di depan kompleks Parlemen di Jakarta, Selasa (24/9/2019). ANTARA /Aditya Pradana Putra
Sejumlah mahasiswa terlibat kericuhan saat berunjuk rasa di depan kompleks Parlemen di Jakarta, Selasa (24/9/2019). ANTARA /Aditya Pradana Putra
Sejumlah mahasiswa membawa bendera Merah Putih saat terlibat kericuhan saat berunjuk rasa di depan kompleks Parlemen di Jakarta, Selasa (24/9/2019). ANTARA /Aditya Pradana Putra

BAPER

Nasionalisme dan Globalisasi


Proklamator ID – Rasanya menjadi semakin penting untuk mengingat sejarah, tentu bagi yang menyadarinya, dan jumlah yang menyadari mungkin semakin tidak banyak; ketika globalisasi semakin merangsek ruang hidup dan ruang gerak kita. Ketika para pemuda dan pemudi dari berbagai latar belakang suku, agama dan asal muasal itu mengucapkan sumpah sebagai satu bangsa yang berbahasa dan bertanah air satu pada 28 Oktober 1928 itu, dunia sepertinya belum sekompleks hari ini.

Segelintir anak-anak muda yang sudah hampir pasti terpelajar itu seperti digerakkan oleh sebuah arus sejarah yang hampir pasti juga bersifat global, meskipun kata globalisasi belum dikenal pada saat itu. Belum lama ini sebuah buku baru terbit, judulnya “Republicanism, Communism, Islam: Cosmopolitan Origins of Revolution in Southeast Asia” (Cornell, 2021), ditulis oleh John Sidel, seorang ahli ilmu politik, dengan keahlian Asia Tenggara di London School of Economics (LSE), Inggris. Dalam buku ini dengan sangat menarik melalui riset yang sangat mendalam digambarkan bagaimana faham-faham yang menjadi nafas gerakan-gerakan anti penjajahan di Indonesia, Filipina dan Vietnam memiliki akar-akar yang jauh di berbagai tempat di dunia.

Secara meyakinkan John Sidel membuktikan bahwa arus dan pusaran sejarah yang mengubah wajah politik di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, hanya mungkin terjadi karena adanya tautan-tautan yang bersifat lintas batas, apa yang disebutnya sebagai kosmopolitanisme – sebuah istilah lain dari globalisasi. John Sidel yang merupakan murid dari Ben Anderson di Universitas Cornell itu mendedikasikan bukunya untuk sang guru yang sayangnya tak sempat melihat buku itu terbit karena keburu wafat.

John Sidel yang keahlian khususnya tentang politik Filipina ini melalui pelacakannya yang sangat teiliti tentang akar-akar kosmopolitanisme berusaha mengungkap dimensi lain yang belum diungkap oleh gurunya empat dekade sebelumnya dalam buku “Imagined communities: Reflections on the origin and spread of nationalism” (Verso, 1983). Melalui bukunya John Sidel ingin menunjukkan bahwa gerakan-gerakan nasionalisme sebagaimana telah diungkapkan oleh Ben Anderson, harus dipahami dalam konteks kosmopolitanisme.

Baca Juga:   Tantangan Globalisasi dan Penerapan Good Governance di Temanggung

Membaca kembali gerakan nasionalisme Indonesia, yang secara populer ditandai oleh tonggak-tonggak penanda waktu penting (1908, 1928, 1945, 1959, 1965, 1998 dan seterusnya) kita bisa melihat bagaimana arus sejarah terbukti tidak selalu bergerak lurus, konsisten dan maju ke depan; namun juga mengalami stagnasi bahkan juga regresi dilihat dari penegakan pencapaian martabat kemanusian seperti kedaulatan politik, keadilan sosial dan kesejahteraan ekonomi.

Memandang ke belakang sejarah bangsa pada hari-hari ini, ketika pandemi baru saja mendera dan kita belum sepenuhnya terbebas dari musibah ini, semestinya harus semakin disadari betapa sebagai sebuah bangsa kita tidak mungkin memandang diri sebagai sebuah entitas yang memilki identitas khusus secara ketat. Fenomena pandemi menunjukkan secara kasatmata betapa mustahilnya menganggap diri terlepas dari orang-orang lain di belahan bumi yang lain.

Adalah sebuah paradoks ketika kita tahu bahwa akar-akar nasionalisme yang membentuk bangsa ini tak mungkin dipisahkan dari kosmopolitanisme; kita merasa seolah-olah harus membentengi diri dengan memperkuat identitas sebagai sebuah bangsa yang berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa lain didunia. Paradoks tampaknya akan selalu menyertai sejarah perjalanan bangsa dan harus diterima sebagai realitas politik yang menantang bagi mereka yang menyadari, biasanya merupakan sedikit dari mereka yang menjadi kaum terpelajar, untuk menentukan langkah apa yang semestinya diambil agar dapat keluar dari paradoks yang dihadapi. Sejarah perjalanan bangsa adalah rangkaian pilihan menghadapi paradoks yang akan ditemui dalam setiap persimpangan jalan, dalam setiap tikungan sejarah.

Kemarin, bertepatan dengan peringatan hari Sumpah Pemuda 28 Oktober 2021, dua buku cukup tebal, yang pertama “Globalisasi dan Transformasi Sosial Budaya” (500 halaman) dan “Membangun Nasionalisme melalui Bahasa dan Budaya” (414 halaman) diluncurkan dan didiskusikan di ruang seminar Lantai 1 Gedung Widya-Graha LIPI. Kedua buku yang merupakan karya para peneliti Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan LIPI itu diterbitkan oleh Penerbit Buku Kompas.

Advertisement. Scroll to continue reading.
Baca Juga:   Papua Dimata Republik, As a Common Project

Dalam acara yang dibuka oleh Profesor Riset Ahmad Najib Burhani sebagai pejabat kepala Organisasi Riset BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional) yang membawahi bidang sosial dan humaniora dan diberi kata sambutan oleh Tri Agung Kristanto Wakil Pemimpin Redaksi Kompas dan Dr. Laksana Tri Handoko sebagai Kepala BRIN; kedua buku yang diluncurkan itu dinilai sebagai semacam peneguhan bahwa bangsa Indonesia sedang berada dalam sebuah persimpangan jalan yang memiliki ketegangan antara di satu sisi pusaran globalisasi dan di sisi lain kehendak kuat untuk memperteguh nasionalisme yang dalam dirinya memiliki kontradiksi-kontradiksi internalnya.

Apabila dalam buku yang pertama diulas berbagai bentuk transformasi sosial yang dialami Indonesia dalam konteks globalisasi, antara lain tentang eksistensi budaya lokal oleh Abdul Rachman Patji (wafat 1 Mei 2020 ), dinamika masyarakat perbatasan oleh John Haba (wafat 10 April 2018), sejarah Islam oleh Muhamad Hisyam (wafat 18 Juli 2021), daya saing tenaga kerja Indonesia oleh M. Bashori Imron, dan mobilitas penduduk oleh Riwanto Tirtosudarmo; buku kedua yang ditulis oleh Abdul Rachman Patji dkk melukiskan dinamika kehidupan bahasa-bahasa lokal yang semakin terancam kepunahan akibat berbagai faktor yang berkembang dalam masyarakat.

Dalam diskusi yang dipandu oleh peneliti muda cemerlang PMB-BRIN Ibnu Nadzir yang dilakukan setelah buku itu resmi diluncurkan, ditampilkan Profesor Mayling Oey (UI), M Rodlin Billah (NU Jerman), Prabowo (PMB-BRIN) dan Riwanto Tirtosudarmo sebagai nara sumber; diperbincangkan berbagai hal tidak saja tentang isi kedua buku juga tentang situasi dunia riset dan akademis pada umumnya.

Sebuah isu yang kemudian berkembang dalam diskusi adalah bagaimana lembaga riset pemerintah yang saat ini mulai dikelola dalam payung besar BRIN menjalankan fungsinya tidak saja untuk untuk memproduksi pengetahuan namun juga untuk menciptakan inovasi-inovasi baru yang hasilnya bermanfaat bagi masyarakat luas. Ada semacam kekhawatiran bahwa lembaga-lembaga riset pemerintah meskipun telah disatukan dalam sebuah super agency seperti BRIN tetap bekerja dalam kerangkeng-kerangkeng struktur dan kotak-kotak ranah permasalahan risetnya masing-masing.

Baca Juga:   Basarah Soal Tionghoa dan Arab di Sumpah Pemuda, Ini Peran Mereka

Kekhawatiran semacam itu muncul ketika membahas kedua buku yang memperlihatkan tantangan bangsa ke depan adalah justru pada kemampuan untuk berpikir secara lentur karena persoalan bangsa apapun yang akan dihadapi, dari soal terancamnya bahasa lokal hingga terlemparnya perempuan-perempuan sebagai pekerja rumahtangga di negara-negara asing memperlihatkan betapa tidak mungkin dipisahkannya upaya-upaya bersama untuk memuliakan manusia melalui penegakan kedaulatan politik, keadilan sosial dan kesejahteraan ekonomi dari mayoritas warga negara yang merupakan negara keempat terbesar di dunia dari segi jumlah penduduk ini.

Riset dan dunia akademis yang diharapkan menjadi institusi penting untuk melakukan inovasi dan rintisan pencarian cakrawala baru seyogyanya tidak dikungkung dalam kerangkeng kaku dan kotak sempit yang hanya akan mematikan kemedekaan berpikir dan kreatifitas mencipta dan berkarya. Di tengah sebuah zaman yang semakin menjanjikan sebuah dunia yang tanpa batas ini, bangsa Indonesia sebagai bangsa yang besar, kaya keragaman dan memiliki sejarah politik panjang niscaya akan terpuruk dan tertinggal di tengah laju kecepatan berkembang bangsa-bangsa lain jika gagal menentukan arah yang tepat untuk melangkah ke masa depan.

Kedua buku yang baru diluncurkan, betapapun kecil sumbangannya, harus dilihat sebagai upaya rintisan untuk melihat cakrawala baru yang sedang dihadapi oleh bangsa Indonesia. Tri Agung Kristanto yang mewakili Penerbit Buku Kompas mengatakan dengan menarik bahwa setiap paragraf atau lembar dalam buku-buku itu jika dibaca dengan baik akan selalu memberikan inspirasi yang penting untuk direnungkan lebih lanjut.

Bahasa, nasionalisme dan globalisasi adalah sebagian saja dari penanda-penanda penting dari transformasi sosial dan perubahan masyarakat yang akan terus berlangsung; terlihat maju, stagnan bahkan regresi terutama jika dilihat dari ukuran-ukuran tegaknya kedaulatan politik, keadilan sosial dan kesejahteraan ekonomi mayoritas warga negara bangsa Indonesia. Sejarah panjang bangsa Indonesia telah menunjukkan dengan jelas bahwa nasionalisme tidak mungkin ada dan tumbuh berkembang tanpa adanya kosmopolitanisme.


Oleh: Dr. Riwanto Tirtosudarmo 

Advertisement. Scroll to continue reading.

Click to comment

+62

Proklamator ID – Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (PA GMNI) bertekad untuk memperkuat nasionalisme. Kedaulatan pangan menjadi suatu keniscayaan yang harus dilakukan oleh...

+62

Proklamator ID – Jelang Kongres IV, PA GMNI adakan webinar yang menghadirkan antara lain sejumlah pembicara, seperti Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, Direktur Pengembangan...

ROMANSING

Proklamator.id – Tentara Nasional Indonesia (TNI) sudah memasuki usia yang ke-76 mempunyai peran penting untuk melindungi bangsa dan Negara Indonesia. Pada tanggal 5 Oktober...

+62

Proklamator.id – Para pejuang kemerdekaan kita begitu gigih dalam membangun semangat perjuangan yang mereka contohkan untuk diteladani oleh generasi muda Indonesia. Para pahlawan itu...

Advertisement
close