Home BAPER Parpol Atau Perusahaan Keluarga

Parpol Atau Perusahaan Keluarga

by Wiwid Widjojo
Tukang sayur membawa bendera partai Demokrat. KLB Partai Demokrat digelar pada Jumat (5/3) di Deli Serdang, Sumatra Utara. KLB memilih Moeldoko untuk pemimpin Demokrat menggantikan Agus Harimurti Yudhoyono. REPUBLIKA/Yogi Ardhi

PROKLAMATOR – Struktur dan personalia Partai Demokrat makin meneguhkan bahwa partai politik di Indonesia itu identik dengan perusahaan. Pendiri, SBY, saat ini menjadi chairman atau ketua dewan pembina. Sang anak, AHY, jadi ketua umum alias CEO kalau di perusahaan. Anak kedua, Ibas, jadi wakil ketum atau deputy CEO.

Para pengurus yang non family adalah dewan direksi atau manajemen “PT” Partai Demokrat. Sementara seluruh kader partai adalah karyawan “PT” Demokrat.

Entitas sebagai parpol adalah entitas legal. Mereka pasti tak mau disamakan dengan PT. Karena mereka memiliki misi, yang pada umumnya adalah seputar pengembangan kebangsaan. De jure, pernyataan itu benar.

Pola yang sama juga terdapat pada parpol-parpol lain di Indonesia. Saya tak perlu sebut satu per satu.

Dan secara hakikat, memang benar penolakan anggapan bahwa organisasi mereka adalah organisasi bisnis. Karena, mereka adalah para politikus. Adapun pemain di PT adalah para pebisnis.

Yang satu, secara formal, tidak bertujuan mencari laba. Sementara PT, di mana pun, pada dasarnya bertujuan meraih laba plus pertumbuhan (profit and growth). Sampai pada tataran ini semua nampak oke, dua makhluk ini berbeda.

Namun realitasnya, kita tak dapat menyangkal bahwa dalil alami menyatakan, “Uang dan kekuasaan itu berhubungan secara timbal balik (resiprokal).” Bila Anda memiliki kekuasaan, Anda berpotensi untuk menghasilkan uang dari kekuasaan itu. Dan sebaliknya, bila Anda memiliki uang, Anda berpotensi untuk meraih kekuasaan. Iya atau iya?

Dalam konteks partai sebagai perusahaan, kita pun bisa lihat bagaimana banyak calon “karyawan” yang berusaha diterima sebagai anggota partai. Dan sebagai layaknya di perusahaan, karyawan yang telah diterima sebagai anggota partai memiliki ambisi dalam kariernya. Ke depan, target mereka adalah menjadi pengurus DPC, atau DPD, atau DPP. Di wilayah eksternal, mereka ingin menjadi anggota legislatif, di kota/kabupaten, provinsi, atau DPR (nasional). Atau, menjadi menteri atau jabatan lainnya di pemerintahan.

Dengan pencapaian demi pencapaian itu, mereka memiliki kekuasaan yang membesar. Dengan kekuasaan ini, peluang untuk “make money” pun membesar. Ini tak ada beda dengan karyawan yang sukses dalam kariernya. Dengan kesuksesan itu, peluang untuk menjadi makin makmur, secara materiil, terbuka lebar. Dalam kancah seperti inilah, substansi parpol tiada beda dengan perusahaan. “Politik itu bukan permainan. Itu bisnis yang serius,” kata Winston Churchill.

Baca Juga :   Syech Ali Jaber Meninggal, Sekjen GMNI: Kita Kehilangan Sosok Menyejukan

Sebagaimana perusahaan yang tiada henti berusaha meningkatkan laba dan pertumbuhan, parpol pun harus terus berusaha meraih kekuasaan dan kekuasaan. Yang pada ujungnya, kekuasaan itu berarti duit. Kuasa besar, duit pun besar.

Senapas dengan pebisnis, para pemilik perusahaan, pemilik parpol pun pasti tak ingin “bisnis”-nya melemah. Mereka ingin terus menguat dan membesar. Ini nafsu manusiawi. Dan, kadang di situlah mereka bisa tersandung. “Karyawan” yang ingin menyenangkan bossnya terpeleset, tertangkap karena korupsi. “Kekuasaan itu tak korup. Tapi ketakutanlah yang korup. Ketakutan akan kehilangan kekuasaan,” kata John Steinback. Di masa lalu, ada tagline produk mebel, Ligna, menyatakan situasi itu sebagai “Sudah Duduk Lupa Berdiri”.

“Karyawan” atau istilah kerennya “kader partai” tahu persis, kesuksesan mereka berkarier pada ujungnya ditentukan oleh big boss, owner partai. Oke atau tidaknya, dan mulus atau tidaknya langkah mereka sangat tergantung pada sang owner. “Politik menentukan siapa yang memiliki kuasa, bukan siapa yang memiliki kebenaran,” kata Paul Krugman.

Di sisi lain, apakah di perusahaan (bisnis) tidak ada politik-politikan? Politik dalam arti bermain taktik dan strategi untuk meraih posisi atau jabatan. Jawabnya: ada. Dikenal sebagai “office politicking”, permainan politik ada dalam bentuk kasak-kusuk, sikut-menyikut, jilat-menjilat atasan, menakut-nakuti dan mengancam bawahan, dan sebagainya.

Hanya saja, perbedaannya, banyak anggota masyarakat yang agak alergi terhadap dunia politik, dalam arti ikut dalam parpol dan sejenisnya. Mungkin pandangan ini, antara lain, yang membuat alergi, “Politik adalah seni mencari-cari masalah, menemukannya di mana saja, mendiagnosisnya secara keliru, dan memperbaikinya dengan cara yang salah,” kata Groucho Marx.

Apa pun pilihan kita, mau jadi pemilik parpol, pemilik perusahaan, kader parpol, atau karyawan perusahaan, tiada yang salah. Sepanjang kita terus selalu dalam “jalan yang benar”, berpikir, berucap, serta bertindak baik dan benar. Harus berani bertarung untuk memperjuangkan keadilan dan kebenaran dalam segenap segi kehidupan. Sebagaimana advis Albert Einstein, “Dunia akan hancur bukan oleh orang yang berbuat jahat, tetapi oleh mereka yang menyaksikan perbuatan jahat itu, tanpa melakukan suatu apa pun.”

Artikel Lainnya

Apakah kelemahan kita: Kelemahan kita ialah, kita kurang percaya diri sebagai bangsa, sehingga kita menjadi bangsa penjiplak luar negeri, kurang mempercayai satu sama lain, padahal kita ini asalnya adalah Rakyat Gotong Royong. Terima Baca Selengkapnya

Untuk Diperhatikan!
close