Pemikir Kiri Islam Tolak Penindasan, Hassan Hanafi Meninggal Dunia - Ever Onward Never Retreat
Connect with us

Hi, what are you looking for?

Ilustrasi Photo Hassan Hanafi/Gulf News

BAPER

Pemikir Kiri Islam Tolak Penindasan, Hassan Hanafi Meninggal Dunia


Proklamator ID – Profesor filsafat Mesir terkemuka Hassan Hanafi telah meninggal pada usia 86, Hanafi dimakamkan pada hari Jumat (22/10/2021) di pemakaman keluarga di Kairo.

Putranya, Hatem, sebelumnya mengatakan peti mati ayahnya akan dibawa dan dipindahkan ke almamaternya, Universitas Kairo, sebagai tanda perpisahan sebelum pemakamannya. Informasi tersebut dilaporkan oleh Gulf News.com.

Imam Besar Masjid Al-Azhar Cairo, Grand Sheikh Al Azhar Ahmed Al Tayyib berduka atas kematian Hanafi, ia memuji dedikasi dan buku-bukunya.

“Dia menghabiskan hidupnya di ceruk pemikiran dan filsafat dan memperkaya perpustakaan Arab dan internasional dengan buku-buku dan penyelidikan akademisnya,” kata Sheikh Al Tayyib.

“Saya ingat seruannya kepada Barat dan Orientalis untuk bersikap adil terhadap Timur, peradaban timur dan nilai-nilai kemanusiaan yang luhur,” tambah ulama Muslim terkemuka itu di Twitter.

Hassan Hanafi adalah salah satu profesor filsafat paling terkenal di Mesir dan memiliki banyak buku, termasuk Warisan dan Pembaruan dalam 4 volume, Dari Transfer ke Kreativitas dalam 9 volume, Ensiklopedia Peradaban Arab, Dialog Timur dan Maroko, dan banyak intelektual lainnya. kreasi.

Hassan Hanafi lahir di Kairo pada tahun 1935, lulus dari Fakultas Seni, Departemen Filsafat, Universitas Kairo pada tahun 1956, melakukan perjalanan ke Prancis pada tahun yang sama dengan biaya sendiri untuk studi yang lebih tinggi, di mana ia memperoleh gelar master dan kemudian gelar doktor negeri dari Universitas Sorbonne pada tahun 1966.

Hanafi bekerja di Universitas Muhammad Bin Abdullah di Fez selama dua tahun (1982-1984), kemudian pindah bekerja di Universitas Tokyo di Jepang antara (1984-1987), dan bekerja sebagai konsultan untuk program penelitian ilmiah di Universitas Perserikatan Bangsa-Bangsa di Tokyo juga.

Advertisement. Scroll to continue reading.
Baca Juga:   Bias Dan Mitos Dalam Bingkai Rekayasa Sosial

Hanafi kembali ke Kairo pada tahun 1987, di mana dia dan yang lainnya mengawasi pembentukan kembali Masyarakat Filsafat Mesir pada tahun 1989 dan menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Masyarakat sejak tanggal tersebut.

Selain itu, anafi, menjadi kepala departemen filsafat di Universitas Kairo, mengajar selama karir akademisnya di lembaga-lembaga luar negeri termasuk Maroko dan Jepang.

Dia ikut mendirikan Masyarakat Filsafat Mesir pada tahun 1989. Dia juga dikenang karena menulis beberapa buku, termasuk “Warisan dan Pembaruan”, dan “Ensiklopedia Peradaban Arab-Islam” dan “Dialog Timur-Barat”.

 

Hassan Hanafi: Pemikir Kiri Islam

Pemikiran Hassan Hanafi tentang Pemikir Kiri Islam, mengutip dari Jurnal Ahmad Munir, Kiri Islam dan Proyek Al-Turats Wa Al-Tajdid, Gerakan intelektual Hassan Hanafi menamakan dirinya “Kiri Islam” (al-Yasar al-Islam). Ia merupakan seorang filsuf Hukum Islam sekaligus sebagai pemikir Islam yang dipengaruhi oleh Barat, kadangkala ia juga menolak dan mengkritik pemikir-pemikir barat. Meskipun dalam situasi apapun ia berupaya rekonstruksi pemikiran Islam yang dapat membebaskan dari segala bentuk penindasan.

Secara spontan Nama Kiri Islam karena melihat realitas umat Islam yang hidupnya antara penguasa dan yang dikuasai, pemimpin dan rakyat, dan antara yang kaya dan yang miskin. Sehingga Kiri Islam memihak kepada kaum yang dikuasai, tertindas, yang miskin dan menderita.

Muncul Islam Kiri dan Kanan dikarenakan pada tatanan spektrum sosial, politik, ekonomi dan sejarah, pasalnya sepanjang perjalanan manusia terlibat dalam sejarah, sehingga manusia akan berada dan terbit pada pertentantang antara kekuatan dan perbedaan kepentingan.

Dalam Islam dikenal Golongan Kanan (Ashabu ‘L-yamin) dan Golongan Kiri (Ashabu ‘L-Syimal) yang berorientasu pada pelaksanaan Agama, bukan politik dan sosial.

Meskipun Kiri Islam terinspirasi dari kemenangan revolusi Islam di Iran pada tahun 1979.

Advertisement. Scroll to continue reading.
Baca Juga:   Pancasila dan Ketakutan-Ketakutan di Sekitar Kita

Akan tetapi hal tersebut bukan satu-satunya penyebab bagi gerakan kiri Islam. Banyak faktor lain yang mempengaruhinya, yaitu adanya gerakan-gerakan Islam Modern dan lingkungan Islam-Arab, yang tidak berhasil dalam mengentaskan masalah keterbelakangan dan penindasan. Kegagalan
tersebut menurut Hasan Hanafi disebabkan.

  1. Terkooptasinya agama oleh kekuasaan, dan praktik-praktik keagamaan diubah menjadi ritus belaka, kecenderungan tersebut merupakan topeng untuk menyembunyikan feodalisme dan kapitalisme kesukuan.
  2. Meskipun liberalisme secara retorik anti kolonial, namun liberalisme tersebut merupakan produk kolonialisme Barat. Karena kenyataannya liberalisme didukung oleh kelas atas yang mengatur kekayaan nasional. Akibatnya, rakyat muslim menjadi korban eksploitasi ekonomi.
  3. Marxisme yang berpretasi mewujudkan keadilan sosial dan menentang kolonialisme, ternyata tidak dengan pembebasan rakyat dan berkembangnya khazanah umat.
  4. Kecenderungan revolusi nasional, sekarang telah melahirkan perubahan fundamental dalam struktur sosio-kultural dunia Islam-Arab, tetapi perubahan tersebut tidak dapat mempengaruhi kesadaran massa muslim.

Setelah meliihat kecenderungan-kecenderungan dalam realita dunia Islam, maka tugas Kiri Islam menurut Hanafi adalah mengatasi kecenderungan tersebut dan mewujudkan cita-cita yang meliputi revolusi rasional, yang didasarkan pada prinsip-prinsip revolusi sosialis melalui pengembangan khazanah intelektual dan berpijak pada kesadaran umat. Adapun misi Kiri Islam adalah:

  1. Mewujudkan keadilan sosial dalam umat melalui nash al-Qur’an
  2. Membangun Masyarakat yang bebas dan demokratis bahwa setiap individu berhak mengungkapkan pendapatnya;
  3. Membebaskan Palestina dan mengusir kolonialisme dari dunia Islam;
  4. Membangun paham Islamisme, yang dimulai dari Mesir, lalu sungai Nil, Suriah, Maroko, Arab, dan akhirnya terjadi kesatuan umat Islam;
  5. Membangun sistem politik nasional yang independen, memperkuat jalinan persahabatan dengan bangsa-bangsa Islam Asia Afrika dan dunia ketiga;
  6. mendukung revolusi kaum tertindas, karena revolusi mereka adalah revolusi Islam.

Click to comment

Advertisement
close