Pencegahan Krisis Lingkungan Hidup di Asia Pasifik Berpeluang Hasilkan US$4,3 Triliun - Ever Onward Never Retreat
Connect with us

Hi, what are you looking for?

Polusi pencemaran udara dari asap cerobong industri oleh pabrik. SHUTTERSTOCK
Polusi pencemaran udara dari asap cerobong industri oleh pabrik. SHUTTERSTOCK
Polusi pencemaran udara dari asap cerobong industri oleh pabrik. SHUTTERSTOCK

CUAN

Pencegahan Krisis Lingkungan Hidup di Asia Pasifik Berpeluang Hasilkan US$4,3 Triliun


Proklamator.id – Sebuah riset terbaru dari AlphaBeta, Temasek dan Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum) memperkirakan 63% PDB Asia Pasifik, sebesar US$19,5 triliun, terancam krisis keanekaragaman hayati dan lingkungan hidup. Riset itu juga memerinci 59 peluang bisnis yang bermanfaat bagi alam “nature positive” dan menciptakan valuasi bisnis senilai US$4,3 triliun serta membuka 232 juta lapangan pekerjaan setiap tahun di Asia Pasifik pada 2030 mendatang.

Asia Pasifik, sebuah kawasan yang kaya akan keanekaragaman hayati endemik dan tidak ditemukan di tempat lain di bumi, tengah mengalami krisis keanekaragaman hayati dan lingkungan hidup. Asia Pasifik bahkan memiliki titik kerusakan sumber daya alam yang terbanyak di dunia. Tanpa perubahan berarti, hingga 42% spesies di Asia Tenggara terancam punah, setengah dari jumlah ini akan menjadi bencana kepunahan global. Transisi secara sistemis harus ditempuh demi mewujudkan masa depan lestari di Asia Pasifik. Sementara, solusi inovatif dapat menarik investasi penting yang membangun kembali hubungan kita dengan bumi.

Hal-hal tersebut merupakan temuan yang tercantum dalam sebuah laporan terbaru oleh AlphaBeta, Temasek, dan Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum). Laporan berjudul “New Nature Economy: Asia’s Next Wave” tersebut diluncurkan di ajang Ecosperity Week 2021. Laporan ini membuat analisis bisnis tentang solusi-solusi yang bermanfaat bagi alam (nature positive) di Asia Pasifik. Analisis itu juga mempertimbangkan berbagai risiko, peluang, dan pendanaan yang diperlukan demi mewujudkan perekonomian yang bermanfaat bagi alam.

Ancaman Terhadap Alam Adalah Ancaman Bagi Dunia Usaha

Tiga sistem sosio ekonomi utama di Asia Pasifik memicu ancaman terbesar terhadap alam, namun juga menyimpan peluang terbesar untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang bermanfaat bagi alam. Secara kolektif, peluang tersebut bernilai US$4,3 triliun, setara dengan 14% PDB Asia Pasifik pada 2019.

Praktik pengelolaan pangan, tanah, dan laut seperti yang telah berjalan selama ini tidak menjaga kelestarian alam. Kita harus mengubah cara bercocok tanam dan menangkap ikan, serta menghemat makanan dan pakaian yang dikonsumsi. Apalagi, Asia Pasifik harus menunjang jumlah penduduk yang diperkirakan bertambah menjadi 5,5 miliar jiwa pada 2050.

Baca Juga:   Februari 2021, Erick Targetkan Merger Bank Syariah

Kita harus “mencadangkan” sumber daya alam, menambah luas tanah dan air yang terjaga dari kerusakan agar ekosistem alam bisa berkembang dan, “berbagi” tempat dengan alam menjamin penggunaan tanah dan air yang lebih ramah bagi keanekaragaman hayati. Pencapaian dua target ini membutuhkan penerapan dan perluasan skala 28 peluang usaha yang dapat menciptakan valuasi bisnis lebih dari US$1,6 triliun dan membuka 118 juta lapangan pekerjaan.

Urbanisasi telah mendorong ekspansi infrastruktur dan lingkungan binaan (built environment) secara cepat dan sering kali tidak terencana. Ekspansi ini berdampak negatif terhadap alam dan manusia. Kini, Asia memiliki 99 dari 100 kota yang menghadapi risiko lingkungan hidup terbesar, dan, seiring dengan maraknya urbanisasi, lingkungan binaan akan terus merusak keanekaragaman hayati dan alam jika tidak diawasi.

Lingkungan binaan harus lebih ramah lingkungan dan menjaga kehidupan alam liar, serta mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan hidup di sekitarnya. Demi mencapainya, kita membutuhkan penerapan dan perluasan skala 16 peluang usaha yang dapat menciptakan valuasi bisnis lebih dari US$1,2 triliun dan membuka sekitar 65 juta lapangan pekerjaan baru.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Walaupun sistem energi dan industri ekstraktif telah menggerakkan pertumbuhan di kawasan ini, sektor energi, kelistrikan, dan industri juga menghasilkan 79% emisi gas rumah kaca di Asia Pasifik. Memberikan akses energi yang andal serta pencapaian target dekarbonisasi di kawasan ini akan menjadi tantangan besar. Jika kita ingin memenuhi kebutuhan penduduk di Asia Pasifik sekaligus menjaga kelestarian alam, seluruh sistem energi dan industri ekstraktif harus berubah secara drastis.

Kita harus meningkatkan efisiensi konsumsi demi menghemat jumlah sumber daya alam yang terkuras, memperbaiki cara kita memanfaatkan sumber daya alam agar dampak negatif terhadap ekosistem bisa berkurang, dan terus beralih memakai energi terbarukan sekaligus tidak menimbulkan dampak negatif lain terhadap ekosistem. Hal-hal ini dapat terwujud jika kita menerapkan dan memperluas skala 15 peluang usaha yang dapat menciptakan valuasi bisnis lebih dari US$1,4 triliun dan membuka sekitar 49 juta lapangan pekerjaan baru.

Baca Juga:   Pasar Luar Negeri Jadi Kunci Pertumbuhan

Secara keseluruhan, 59 peluang usaha yang bermanfaat bagi alam pada ketiga sistem ini akan membutuhkan investasi senilai US$1,1 triliun per tahun. Kendati nilainya besar, namun investasi tersebut hanya sebagian kecil dari anggaran sebesar US$31,1 triliun yang ditetapkan oleh 45 negara anggota Bank Pembangunan Asia (ADB) untuk penanganan pandemi Covid-19.

“Kita harus memangkas setengah dari jumlah emisi karbon dan mulai menghentikan kerusakan alam pada 2030 demi mencegah bencana besar. Langkah ini dapat ditempuh dengan model-model bisnis yang mandiri (self sustaining) dan berdaya tahan dari sisi ekonomi,” kata Steve Howard, Chief Sustainability Officer Temasek.

“Komunitas bisnis dan investasi harus bekerja sama dengan kalangan pemerintah dan masyarakat sipil. Secara kolektif, kita dapat mewujudkan pendanaan yang ikut menggerakkan pertumbuhan serta bermanfaat bagi manusia, bumi, dan ekonomi.” ungkap Steve.

Inovasi dan kolaborasi berperan besar menarik investasi yang menghasilkan transisi bermanfaat bagi alam.

Laporan itu melibatkan sebuah survei eksklusif yang diikuti kalangan investor dan pemimpin bisnis di Asia Pasifik. Dalam survei tersebut, mereka memerinci sejumlah tantangan besar yang harus diatasi guna mewujudkan model-model bisnis yang bermanfaat bagi alam. Kendala-kendala ini secara umum digolongkan dalam empat bidang: tantangan regulasi, hambatan pasar, kesenjangan informasi, dan keterbatasan aspek pendukung investasi.

Demi mengatasi kendala-kendala ini, komunitas bisnis dan tokoh masyarakat mengusulkan sederet solusi inovatif yang mendukung investasi penting dalam dekade mendatang. Berikut tiga usulan terpenting:

Model baru dalam penetapan harga eksternalitas (externality pricing model) yang mencerminkan biaya riil dari eksternalitas sumber daya alam dan lingkungan hidup. Keselarasan standar pelaporan tentang keanekaragaman hayati yang menjamin akuntabilitas target-target keanekaragaman hayati. Produk dan mekanisme finansial baru, seperti model keuangan gabungan (blended finance model) dan regulasi yang menjamin kepatuhan terhadap kebijakan-kebijakan lingkungan hidup saat ini dan masa depan.

Advertisement. Scroll to continue reading.
Baca Juga:   Manifestasi Koperasi dan Keadilan Pajak

Penelitian dan pengembangan, serta dialog publik swasta yang lebih luas akan berperan besar menciptakan dan mendukung iklim investasi yang bermanfaat bagi alam.

“Pandemi Covid-19 telah menjadi guncangan sistem yang sangat vital sehingga kita berpikir ulang tentang hubungan manusia dengan alam. Demi memulihkan masa depan yang berkelanjutan, kita harus mengalokasikan investasi dengan tepat untuk pelestarian, restorasi, dan pengelolaan sumber daya alam secara lestari, serta mengutamakan layanan ekosistem,” jelas Akanksha Khatri, Head, Nature Action Agenda, Forum Ekonomi Dunia.

“Riset dan keterlibatan kami dengan kalangan pemerintah, sektor swasta, investor, dan masyarakat sipil menekankan bahwa kita harus menciptakan jalur kolaboratif baru demi mewujudkan perekonomian yang bermanfaat bagi alam.” kata Khatri.

Sementara itu Fraser Thompson, pendiri dan Managing Director, AlphaBeta mengatakan bahwa laporan itu memuat kabar baik, yakni dunia usaha tak hanya berpeluang memperkuat daya tahan operasional dan ikut menjaga kelestarian alam, namun juga menciptakan peluang pertumbuhan baru. Aksi yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan antara pelaku bisnis, pemerintah, dan masyarakat sipil di Asia Pasifik dapat mewujudkan peluang yang bermanfaat bagi alam.

“Krisis keanekaragaman hayati dan lingkungan hidup menjadi kekhawatiran besar bagi dunia usaha di Asia Pasifik. Seluruh bukti-bukti menunjukkan, skenario tanpa perubahan berarti bukan lagi sebuah pilihan,” jelas Thompson.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

FYI

PROKLAMATOR.ID – Presiden Joko Widodo (Jokowi) menegaskan Indonesia saat ini sedang menghadapi situasi krisis. Bukan hanya krisis kesehatan akibat pandemi Covid-19, melainkankan juga krisis...

Advertisement
close