Pesan Islam Menurut Bung Karno Tentang Maulid Nabi Muhammad SAW - Ever Onward Never Retreat
Connect with us

Hi, what are you looking for?

Bung Islam
Bung Islam
Presiden Sukarno saat berdoa usai menjalankan shalat. LIFE

FYI

Pesan Islam Menurut Bung Karno Tentang Maulid Nabi Muhammad SAW


Proklamator ID – Perayaan Maulid Nabi yang selalu diselenggarakan oleh umat Islam sebagai momentum merayakan kelahiran Rasulullah SAW setiap pada tanggal 12 Rabiul Awal dalam penanggalan Hijriyah.

Setiap umat Islam yang ada di dunia pun turut merayakan dengan berbagai metode atau cara masing-masing sesuai dengan madzhab yang diikuti. Perayaan tersebut tidak terlepas dengan kecintaan umat Islam terhadap Rasulullah SAW sekaligus sebagai ekspresi kegembiraan dan penghormatan kepada Rasulullah SAW.

Perayaan maulid nabi pada masyarakat muslim di Indonesia dengan pendekatan religius seperti pembacaan shalawat nabi, pembacaan syair Barzanji dan pengajian. dalam penanggalan jawa, bulan Rabiul Awal disebut dengan bulan Mulid, sehingga melaksanakan kegiatan dibulan tersebut yakni acara Muludan yang diiringi dengan permainan gamelan Sekaten dan tradisi endhog-endhogan yang dilaksanakan oleh masyarakat Jawa-Using di Banyuwangi-Jawa Timur.

Selain itu, peringatan Maulid Nabi bertujuan untuk mengenang perjuangan Rasulullah SAW dalam membawa ajaran Tuhan semesta alam, Allah SWT. Untuk tahun 2021, Maulid Nabi bertepatan pada tanggal 19 Oktober yang merupakan hari Selasa.

Tak hanya itu, dibalik dari perayaan kelahiran Nabi Muhammad SAW pasti ada nilai dari kebermanfaatan sebagaimana realitas kehidupan Rasulullah SAW dalam menjalankan misi nilai Islam yang rahmatan lil alamin.

Bung Karno pun pernah merayakan kelahiran Rasulullah SAW, beliau dalam pidatonya untuk mengenang jasa Nabi Muhammad bukan dari ketokohannya, melainkan dari sifat dan ajaran yang baik sebagaimana misi Rasullullah, harus dilaksanakan oleh umat Islam yang benar – benar mencintai Rasulullah SAW dan menjalankan perintahnya dan larangannya.

 

Pidato Singkat Bung Karno dalam rangka Perayaan Maulid Nabi 1963 di Jakarta

“Tadi tidak ada satu bangsa yang besar, yang tidak mempunyai orang besar. Seluruh sejarah manusia. Coba saudara petani, sejarah manusia itu. Kurun ribuan tahun sebelum kita, sampai sekarang. Di perjalanan umat sejarah manusia, kita menjumpai orang-orang besar, Islam adalah agama yang menuju kepada otak. Islam adalah agama yang menuju hati dari otak. Segala ajaran Islam bisa diterima oleh hati kita dan bisa diterima oleh otak,” ungkapnya.

Advertisement. Scroll to continue reading.
Baca Juga:   Surat Bung Karno Pada Fidel Castro: Perjuangan Butuh Waktu dan Kegigihan

“Saudara-saudara manusia itu ada yang mimpin, rasul-rasul. Pasti selalu ada perantara antara ajaran. Masuk akal bila kita percaya ada rasul-rasul. Padahal kita tidak pernah melihat Muhammad. Enggak pernah kita melihat Musa. Enggak pernah kita melihat Sulaiman. Enggak pernah melihat Isa,”

“Kita sekarang ini merayakan Maulud, Maulud Nabi. Apa sebenarnya yang kita rayakan? Bukan sekadar Muhammad-nya. Bukan sekadar dia itu dulu Nabi, tidak. Yang kita rayakan sebenarnya ialah ajaran, konsepsi, agama yang ia berikan kepada umat, Oleh karena itu kita berkata, jikalau benar-benar engkau cinta Muhammad. Jikalau engkau benar-benar merayakan Mawulud Muhammad bin Abdullah, jikalau engkau benar-benar merayakan. Kerjakanlah apa yang ia perintahkan, kerjakanlah apa yang agama ia bawa,”

“Kita ingin menjadi satu bangsa yang seperti tiap hari digembleng oleh keadaan. Digembleng hampir hancur lebur, bangun kembali. Hanya dengan jalan demikianlah kita bisa menjadi satu bangsa yang benar-benar bangsa otot kawat balung wesi. Ora tedas tapak paluning pandhe (kebal senjata tajam),”

“Apalagi? Ora tedas sisaning gurindo (tidak takut ancaman). Hanya jikalau kita mengerti dialektik daripada perjuangan. Jikalau engkau umat Islam yang sejati, engkau harus senang, senang, senang selalu digembleng. Senang karena selalu up and down,”

“Saudara-saudara, mari berjalan terus. Berjalan terus di atas dasar-dasar kenegaraan kita. Berjalan terus sebagai umat Islam, di atas dasar-dasar ajaran agama Islam. Berjalan terus dan memang telah dijanjikan oleh Tuhan, janji lho, janji, janji oleh Tuhan pada kita,”

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

ROMANSING

Proklamator ID – Secara umum, pemahaman tentang pemuda merupakan manusia individu secara fisik maupun psikis mengalami perkembangan, dan sebagai calon generasi mendatang, diharapkan kedepannya...

ROMANSING

Proklamator.id – Meski belum ada penelitian yang mendalam guna membandingkan karakter antar bangsa, bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa yang ramah, pandai bergaul, dan bersikap...

KEKUNOAN

Proklamator.id – Bung Karno sejatinya adalah seorang founding father Bangsa Indonesia yang harusnya menikmati indah kemerdekaan. Sepanjang hidupnya, Beliau sudah terlalu banyak berkorban demi...

WOW

Proklamator.id – Pada 17 Agustus 1962 presiden Soekarno pada pidato kepresidenan menyerukan tentang membangun karakter atau Character Building. Bung Karno menjelaskan pembangunan karakter pada...

Advertisement
close