Seruan Kebangsaan Jangan Hanya Dibibirmu Saja - Ever Onward Never Retreat
Connect with us

Hi, what are you looking for?

Para anggota legislatif di DPR RI Periode 2014-2019 di Senayan sebagai wakil rakyat sering kali meneriakan soal isu kebangsaan. LP6/Johan Tallo
Para anggota legislatif di DPR RI Periode 2014-2019 di Senayan sebagai wakil rakyat sering kali meneriakan soal isu kebangsaan. LP6/Johan Tallo
Para anggota legislatif di DPR RI Periode 2014-2019 di Senayan sebagai wakil rakyat sering kali meneriakan soal isu kebangsaan. LP6/Johan Tallo

+62

Seruan Kebangsaan Jangan Hanya Dibibirmu Saja


Proklamator.id – Para pejuang kemerdekaan kita begitu gigih dalam membangun semangat perjuangan yang mereka contohkan untuk diteladani oleh generasi muda Indonesia. Para pahlawan itu rela berkorban apa saja, tidak hanya waktu, harta, bahkan nyawa sekalipun, namun dimasa sekarang, generasi muda Indonesia bukan malah mengikuti jejaknya dalam berkorban, tapi justru hal yang dipikirkan bagaimana bisa memperoleh keuntungan dari apa yang bisa diperoleh pada situasi kebangsaan saat ini.

Jika dianggap perjuangan yang tertinggi adalah persembahan nyawa bagi bangsa dan negara, dan perjuangan yang terendah adalah sekedar berdoa, mungkin dapat kita tarik kesimpulan, jika mengandalkan doa pun mereka seakan enggan melakukannya. Berkorban waktu yang seharusnya mudah dan murah, itu saja tidak menjadikan sikapnya untuk tergetar akan pentingnya partisipasi dalam upaya tersebut. entah mau kemana mereka akan melabuhkan harapan terhadap persatuan dan kesatuan bangsa ini, jika saat ini saja generasi muda kita malah semakin banyak yang terpapar paham radikalisme dan intoleransi.

Pemahaman akan perjuangan semestinya dilakukan dengan banyaknya mendengar peristiwa dan mengetahui persoalan yang terjadi diberbagai kawasan. Sedangkan untuk mengetahui informasi tersebut, tentu diperlukan kesediaan membuka mata dan telinga dari perspektif apa yang harus dilihat serta mendengar pada situasi mana yang sepatutnya dicermati. Sebab, tidak mudah memperoleh keutuhan satu kesatuan peristiwa yang utuh tanpa menerima semua masukan itu untuk dicerna dan dipetakan secara komprehensive. Apalagi sekedar menduga-duga dan hanya mengembangkan prasangka semata.

Banyak pihak yang bersuara namun terkesan hanya dibibir saja, sebab mereka tidak ikut melakukan sesuatu apapun, baik kesediaan mendengar, melihat dan melakukan reaksi akan hal itu, baik berupa ucapan, tindakan yang dapat saja dituangkan dalam bentuk tulisan atau partisipasi kehadirannya jika diperlukan dalam suatu bentuk inisiatif gerakan. Acapkali yang terlihat justru upaya melempar bola api agar membakar setiap sudut ruang sehingga terbakar secara keseluruhan dari aspek kebangsaan yang saat ini meluas pada setiap penjuru masalah bangsa.

Baca Juga:   Basarah Soal Tionghoa dan Arab di Sumpah Pemuda, Ini Peran Mereka

Malah dalam beberapa kondisi, para patriot palsu ini acapkali menjadi kompor dan menyulut siapa pun orang disekitarnya demi mengalihkan kesan ketidak ikut sertaannya, atau bahkan cenderung memanfaatkan komunitas yang dibangun oleh pihak lain, guna mengambil manfaat pada situasi semacam itu. Tujuan mereka tak lain agar terkesan baik dimata orang lain, seperti memperoleh hak istimewa sosial atau privilege sosial yang merupakan hak istimewa yang semestinya dimiliki orang tertentu. Maka tak heran, para patriot palsu ini, gemar memamerkan apa yang dimilikinya, sehingga tampak berbeda dari orang lain.

Privilege atau hak istimewa itu sering diartikan sebagai hak-hak yang melekat pada diri seseorang sejak lahir, dan bentuk privilege bermacam-macam, namun secara umum seseorang dianggap memiliki hak privilege bila berasal dari keluarga yang mapan atau dari kalangan penguasa tertentu. Akan tetapi, hal itu tidak berlaku manakala negara memiliki sistem yang bisa melindungi warga negaranya, mulai dari pendidikan, kesehatan, dan pekerjaan, maka warga negara akan mendapat hak yang sama untuk memperoleh kesuksesan, walau tanpa koneksitas dari mereka yang memiliki hak privilege tersebut.

Hal yang paling sering terjadi, kita mengharapkan seseorang mengambil keputusan sesuai keinginan kita. Padahal mereka punya pemikiran sendiri, keinginan sendiri, kepentingan sendiri yang belum tentu sesuai dan harmoni dengan apa yang kita inginkan, ada titik di mana kita harus mulai mengerti tentang mereka. Cobalah dengan tulus mengenal seseorang agar tidak memperdalam rasa kecewa. Berhentilah menaruh harapan pada mereka yang mungkin terlalu tinggi, dan jangan pernah mengharapkan orang lain untuk selalu membantu. Kalau ada yang menolong dengan ikhlas, bersyukurlah pada Tuhan. Tapi jangan selalu pernah bersandar padanya, apalagi dalam hal menggapai sebuah impian.

Baca Juga:   KPK Rekrut Napi Koruptor Jadi Penyuluh Korupsi, Ini Kata Netizen

Sekarang hanya tersisa kita semua, apakah ingin memperjuangkan bangsa ini kepada hal-hal yang bersifat kemajuan untuk sejajar dengan negara maju didunia, atau sekedar berputar-putar demi memuluskan jalan ke akhirat kelak, walau pemikiran konservatif adalah bagian yang perlu direnungkan, namun tidak semestinya arus radikalisme dan intoleransi itu dipertahankan guna menghambat kemajuan bangsa ini. saya hanya membentangkan persoalan dan anda pula yang perlu mengambil sikap apa yang terbaik bagi negeri ini, sebab disadari atau tidak, sesungguhnya kita dan anak keturunan kitalah selaku pemilik negeri yang tercinta ini pula.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Oleh: Andi Salim

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

BAPER

Proklamator ID – Rasanya menjadi semakin penting untuk mengingat sejarah, tentu bagi yang menyadarinya, dan jumlah yang menyadari mungkin semakin tidak banyak; ketika globalisasi...

+62

Proklamator ID – Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (PA GMNI) bertekad untuk memperkuat nasionalisme. Kedaulatan pangan menjadi suatu keniscayaan yang harus dilakukan oleh...

+62

Proklamator ID – Jelang Kongres IV, PA GMNI adakan webinar yang menghadirkan antara lain sejumlah pembicara, seperti Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo, Direktur Pengembangan...

ROMANSING

Proklamator.id – Tentara Nasional Indonesia (TNI) sudah memasuki usia yang ke-76 mempunyai peran penting untuk melindungi bangsa dan Negara Indonesia. Pada tanggal 5 Oktober...

Advertisement
close